Membuat Passport untuk Anak (Bayi) di Kantor Imigrasi Jogja

Very Very Last Post. Niatnya menyusul tulisan ini, namun tertunda lama karena alasan kesibukan 😅

Akhir tahun 2014 yang lalu saya membuatkan pasport untuk anak saya Akhtar. Saat itu Akhtar belum genap 1 tahun. Karena sejak lahir kami stay di Magelang dan kebetulan ber-KK dan KTP Jogja, sy membuatnya di Kantor Imigrasi Jogja.

FYI, kantor imigrasi kelas 1 Jogja beralamat di Jalan Solo KM 10, tepatnya di sebelah barat bandara Adi Sucipto. Jam layanan kantor tersebut adalah
~SENIN – KAMIS : 07.30 – 16.00 WIB (Istirahat : 12.00 – 13.00 WIB)
~JUM’AT : 07.30 – 16.30 WIB (Istirahat : 11.30 – 13.00 WIB).
Hanya saja perlu datang sangat sangat pagi karena antrian dibatasi (kalau tidak salah ingat, 100 aplikasi manual dan 30 aplikasi online), dan jika nomor antrian habis akan diminta datang di hari lain. Dari sini saja saya salah start. Saat itu sy berangkat jam 6.30 dari Magelang, baru tiba sekitar jam 7.30. Ingat betul saat itu hari ibu, tanggal 22 Desember. Saat sy tiba, gerbang akan ditutup karena halaman mau dipakai upacara. Sy naik lewat pintu belakang dan menuju loket antrian, mendapatkan nomor 95. Ternyata cukup beruntung karena biasanya jam segitu antrian sudah habis. Kaget…beda dengan ketika di Solo dulu, datang jam 10 pun masih bisa antri 😀

Kekagetan dan juga salah start yang ke2 adalah Baca lebih lanjut

Iklan
Categories: Jejak Pelangi | Tag: | Tinggalkan komentar

Nasihat untuk Ibu

Nasihat Ustadzah Aan Rohana, MAg..

Tugas Ibu :
1. Tanggung jawab terhadap anaknya
2. Mendirikan shalat malam
3. Mengkhatamkan quran setiap bulan 
4. Pandai menjaga keikhlasan dan sabar
5. Qudwah Hasanah (menjadi contoh) dan doa
6. Memperluas wawasan
‎‎
Anak akan melihat pengorbanan seorang ibu, jd tanpa disuruh si anak akan mendahulukan ibunya.

Allah akan murka kpd ibu yg tdk mendidik anaknya utk dekat dg Qur’an, dan Allah.

Al A”raf  172.‎
Tanggung jawab ibu sangat besar utk mengembalikan anaknya dlm keadaan suci.

Ibu berfungsi menyiapkan jalan anak menuji surga.

Landasan mendidik anak adalah harus berasal dr Allah. Oleh krn itu jangan jauhkan anak dr qur’an.

Terlambat mengajari anak membaca qur’an sejak SD atau mengajarkan anak menghafal qur’an sejak SD. Krn seharusnya kita mengisi miliyaran sel otak anak dg qur’an sejak dalam kandungan. Baca lebih lanjut

Categories: dapat dari luar, Parenting | Tinggalkan komentar

Repost: Ketika Anak Terpapar Gadget

Ketika Anak Terpapar Gadget
Oleh Chairunnisa Rizkiah, S.Psi

Sekitar satu tahun lalu, saya menonton sebuah video berjudul “A Magazine Is an iPad That Does Not Work”. Di video tersebut diperlihatkan seorang anak berusia 1 tahun yang diberikan sebuah majalah. Alih-alih membalik halaman-halaman majalah tersebut, si anak mencoba memperlakukan majalah seperti komputer tablet, yaitu mengutak-atiknya dengan jari. Videonya bisa ditonton di link ini: https://www.youtube.com/watch?v=aXV-yaFmQNk

Pada usia 0-2 tahun, perkembangan kognitif anak berada pada tahapan sensorimotor. Artinya, anak butuh input sensori untuk belajar. Perlu benda nyata yang bisa dipegang, diamati, dan diutak-atik. Apa yang terjadi di video yang saya ceritakan di atas, adalah kasus anak usia di bawah 2 tahun hanya tahu cara memegang komputer tablet, kemungkinan tidak pernah diberi waktu untuk bermain dengan buku yang nyata, dan akibatnya salah mempersepsi majalah sebagai tablet.

American Academy of Pediatrics merekomendasikan orangtua untuk tidak memberi screen time  Baca lebih lanjut

Categories: dapat dari luar, Parenting | Tinggalkan komentar

Repost: Weaning With Love

Assalamu’alaykum wrb.
 
Selamat pagi ibu-ibu, kali ini saya akan berbagi mengenai weaning with love (menyapih dengan cinta). Tema ini bisa dikatakan tema sentral kegalauan para ibu ketika si kecil akan memasuki usia 2 tahun, selain tema toilet training hehe..
 
WHO dan IDAI memang menganjurkan bahwa kegiatan menyusui sebaiknya dilakukan hingga usia dua tahun. Dalam islam pun, anjuran penyempurnaan penyusuan dikatakan hingga usia 2 tahun. Lantas, bagaimana jika si kecil sudah 2 tahun namun tak nampak tanda2 ia mau berhenti menyusu? Nah, tentunya ada yang bisa kita lakukan untuk membantunya. Meskipun ada yang mengatakan bahwa anak akan menyapih dirinya sendiri, namun peran kita sebagai orang tua agar menyiapkan si kecil untuk siap disapih juga akan sangat membantunya mencapai kesiapan penyapihan (weaning readiness). Nah, Kejelian orang tua mengenali weaning readiness adalah salah satu kunci keberhasilan proses weaning with love (wwl). Oke, kita bahas lebih lanjut ya si wwl ini..
 
❓Apa itu WWL? Baca lebih lanjut

Categories: dapat dari luar, Parenting | Tinggalkan komentar

Repost: Seribu Hari Pertama Kehidupan

Resume Materi Kuliah WhatsApp Grup Rumah Main Anak
Hari, tanggal : Kamis, 17 September 2015
Judul Materi : Optimalkan Gizi si Kecil di 1000 Hari Pertama Kehidupannya
Nama pemateri : Pramitha Sari, S.Gz, Dietisien, M.H.Kes.
Nama peresume: Julia Sarah, S. Hum

Assalamu’alaikum ibu2 yang luar biasa… hari ini saya diberi amanah untuk membahas tema kesehatan. Yaitu tentang seribu hari pertama kehidupan (SHPK).
Seribu hari yang dimaksud disini adalah seribu hari pertama kehidupan, yaitu 270 hari selama didalam kandungan dan 730 hari sisanya adalah masa 2 tahun pertama pasca lahir atau biasanya disingkat BADUTA alias bawah dua tahun.
Kenapa SHPK menjadi penting? Karena masa-masa tersebut adalah masa-masa terpesat dalam pertumbuhan dan perkembangan seluruh organ dan sistem tubuh manusia. Pada saat didalam kandungan, hasil dari pembuahan sperma dan ovum yang disebut zygot membelah sel-selnya untuk menjadi organ tubuh yang mendukung kehidupan menjadi manusia seutuhnya. Dalam tumbuh kembanganya zygot yang kemudian berkembang menjadi fetus atau janin membutuhkan nutrisi yang cukup melalui plasenta ibunya.
Pertumbuhan dan perkembangan ini memerlukan asupan gizi dari ibu, baik yang dikonsumsi ibu maupun yang berasal dari mobilisasi simpanan ibu. Bila pasokan gizi dari ibu ke janin kurang, janin akan melakukan penyesuaian, karena janin bersifat plastis (mudah menhyesuaikan diri). Penyesuaian tersebut bisa melalui pengurangan jumlah sel dan pengecilan ukuran organ dan tubuh yang lebih kecil, agar sesuai dengan terbatasnya asupan gizi.
Kemudian setelah lahir dan menjadi bayi, sifat plastisnya masih terbawa hingga ke alam dunia. Kita tahu bayi adalah makhluk yang paling cepat belajar dan menyesuaikan diri. Jika dalam masa 2 tahun awal asupan gizinya kurang maka tubuhnya lah yang akan beradaptasi dengan lingkungannya. Sayangnya dalam masa SHPK jika terjadi malnutrisi atau kekurangan zat gizi maka efeknya akan bersifat permanen. artinya bila perbaikan gizi dilakukan setelah melewati kurun seribu pertama kehidupan,tingkat keberhasilan perbaikannya relatif lebih kecil, sebaliknya bila dilakukan pada masa SHPK terutama saat didalam kandungan, maka efek perbaikannya lebih bermakna.
Perubahan permanen inilah yang menimbulkan masalah jangka panjang. Mereka yang mengalami kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan, mempunyai tiga resiko: Baca lebih lanjut

Categories: dapat dari luar, Parenting | Tinggalkan komentar

Repost: Speech Delay

Assalamu’alaykum ibu, bunda, ummi, mama semua. Hari ini saya diminta untuk sharing mengenai speech delay,  katanya sarah itu request-an jamaah rumah main anak soalnya hehe..
Speech delay dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan keterlambatan bicara. Keterlambatan bicara ini berbeda dengan keterlambatan bahasa (language delay), walaupun kadang-kadang berjalan beriringan. Apa sih bedanya? Kita bahas dari pengertian ‘bicara’ dan ‘bahasa’ dulu ya. Bicara adalah suara yang keluar dari mulut kita. ‘bicara’ dapat dikatakan bermasalah ketika apa yang keluar dari mulut kita tidak bisa dipahami orang lain. Nah kalau ‘bahasa’ lebih terkait dengan makna, dibandingkan bunyi. Bahasa adalah salah satu alat untuk mengukur kecerdasan, sehingga keterlambatan bahasa menjadi lebih serius dibandingkan keterlambatan bicara.

Next, bagaimana kita bisa tahu kalau perkembangan bicara dan bahasa anak kita ‘on the track’? ya kita harus tau ‘track’-nya dong, hehe.. track ini biasanya disebut milestone perkembangan. Kita akan bahas per rentang usia yaa.. oya pembahasan ini saya ambil dari http://www.speechdelay.com, kalau ada yang mau baca link aslinya monggo

• Usia 0-6 bulan
Saat baru lahir komunikasi bayi hanya dilakukan melalui tangisan dengan berbagai irama dan pola. Selanjutnya antara usia 6 minggu hingga 3 bulan bayi mulai melakukan cooing (mengucapkan satu suku kata yang diawali dengan hufuf vokal seperti ‘aaah’) ketika mereka merasa gembira. Di usia 6 hingga 10 bulan bayi melakukan babbling yaitu mengulang suku kata yang diawali dengan konsonan seperti ‘ma-ma-ma-ma’. Kadangkala hal ini dimaknai sebagai kata pertama bayi padahal tidak demikian karena kata-kata yang diucapkan bayi tidak memiliki makna tertentu. Di rentang usia ini bayi juga sudah memiliki awareness terhadap bunyi (misalnya menengok ke arah sumber suara, berhenti menangis ketika diajak berbicara) dan menggunakan tatapan mata untuk menunjukkan minatnya.
Apa yang bisa dilakukan orang tua di rentang usia 0-6 bulan?
Lakukan uji pendengaran (misalnya BERA test) jika bayi nampak tidak responsif terhadap suara. Gunakan banyak intonasi saat bicara, gunakan bahasa yang sederhana. Bicara dalam bentuk nyanyian juga cara yang sangat baik untuk mendapatkan dan mempertahankan perhatian si bayi. Hal ini membuat anak menjadi semakin aware dengan bicara manusia dan mendorong interaksi social sejak dini.

• 7-12 bulan Baca lebih lanjut

Categories: dapat dari luar, Parenting | Tinggalkan komentar

Repost: TANTRUM

Temper Tantrum
Oleh Chairunnisa Rizkiah, S.Psi

Assalamu’alaikum ibu-ibu hebat :mrgreen: Materi kali ini menurut saya ngeri-ngeri sedap. Hihi…Mudah-mudahan kita bisa banyak berbagi pengalaman juga ya.

Temper tantrum, atau yang lebih sering disebut tantrum, merupakan luapan emosi seseorang saat mengalami kondisi yang tidak menyenangkan. Emosi negatif dari stres yang dihadapi itu diluapkan dalam bentuk perilaku seperti berteriak, menangis, ngotot/tidak mau menuruti perintah, hingga memukul atau merusak barang. Tantrum adalah cara anak mengungkapkan rasa frustrasinya, ketika anak menginginkan sesuatu namun tidak keinginannya tidak dituruti, atau ketika anak tidak bisa menyampaikan keinginan, isi pikiran, ataupun perasaannya secara lisan karena keterbatasan kemampuan bahasa anak di usia tersebut. Tantrum juga lebih rentan terjadi bila anak sedang lelah, sakit, atau mengantuk.

Tantrum biasanya terjadi di usia toddler (1 tahun – menjelang 3 tahun). Baca lebih lanjut

Categories: dapat dari luar, Parenting | Tinggalkan komentar

Perkembangan Sosial-Emosi dan Repost: Kemandirian Anak Usia 4-6 Tahun

Perkembangan Sosial-Emosi dan Kemandirian Anak Usia 4-6 Tahun

Perkembangan sosial adalah proses kemampuan belajar dan tingkah laku yang berhubungan dengan individu untuk hidup sebagai bagian dari kelompoknya. Di dalam perkembangan sosial, anak dituntut untuk memiliki kemampuan yang sesuai dengan tuntutan sosial (kemampuan beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan) di mana mereka berada.

Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam hubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, guru, orang tua maupun saudara-saudaranya. Saat  berhubungan dengan orang lain, terjadi peristiwa-peristiwa yang sangat bermakna dalam kehidupan anak yang dapat membentuk kepribadiannya, dan membentuk  perkembangannya menjadi manusia yang sempurna. Perilaku yang ditunjukkan oleh seorang anak dalam lingkungan sosialnya sangat dipengaruhi oleh kondisi emosinya. Perkembangan emosi seorang anak itu sendiri sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan terdekatnya. Maka, sangatlah bijak apabila kita berusaha menciptakan lingkungan yang kondusif untuk membantu perkembangan emosi anak.

Karakteristik Perkembangan Sosial Anak Prasekolah Baca lebih lanjut

Categories: dapat dari luar, Parenting | Tinggalkan komentar

Repost: Perkembangan Psikososial dan Kemandirian Anak Usia 2-4 tahun

Perkembangan Psikososial dan Kemandirian Anak Usia 2-4 tahun
👬

Oleh Chairunnisa Rizkiah

Dalam perkembangan manusia, ketiga aspek motorik, kognitif, dan psikososial saling berkaitan. Seperti yang sudah saya sampaikan di materi perkembangan motorik dan kognitif, penguasaan keterampilan baru membuat anak lebih percaya diri untuk ‘berpetualang’ di lingkungan yang lebih luas dan beragam serta mengembangkan kemandiriannya. Untuk tema perkembangan psikososial anak usia 2-4 tahun, saya ingin membahas beberapa topik, yaitu perkembangan emosi dan keterampilan sosial, bermain, dan kemandirian.

1⃣ Perkembangan emosi dan keterampilan sosial

Seiring perkembangan kemampuan berpikir dan berbahasa, anak mulai mengenali emosi-emosi dasar, yaitu senang, sedih, takut, kaget, marah, dan jijik.  Emosi yang ditunjukkan oleh orang lain lewat ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan kata-kata juga ditangkap oleh anak dan menjadi semacam ‘petunjuk’ untuk bertingkah laku. Contohnya, saat melihat anak lain menangis, ada anak yang mengusap-usap tangan anak itu sambil berkata, “Jangan sedih, jangan nangis.” Anak juga tahu kalau orangtuanya marah karena orangtua bicara dengan suara keras, intonasi (nada suara) tinggi, dan ekspresi wajah cemberut. Atau, setelah pulang liburan anak bercerita ke gurunya, “Aku senang banget kemarin jalan-jalan ke Taman Safari.”

Kemampuan anak untuk mengenali emosinya sendiri dan emosi orang lain merupakan keterampilan sosial. Anak  jadi mengerti apa yang sedang ia rasakan, dan bisa mengerti perasaan orang lain. Tentu masih dengan pemahaman yang sederhana. Baca lebih lanjut

Categories: dapat dari luar, Parenting | Tinggalkan komentar

Repost: Perkembangan Sosial-Emosional dan Kemandirian Anak Usia 0-2 Tahun

Perkembangan Sosial-Emosional dan Kemandirian Anak Usia 0-2 Tahun
Oleh: Puti Ayu Setiani

Bayi mulai mengembangkan hubungan dengan orang-orang di sekitar mereka sejak lahir, namun proses belajar untuk berkomunikasi, berbagi, dan berinteraksi dengan orang lain membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berkembang. Mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan emosi dan perilaku merupakan sebuah proses yang panjang. Anak-anak akan terus mengembangkan ketrampilan sosial-emosiomalnya dengan baik pada saat remaja atau bahkan di usia dewasa muda. Berikut merupakan capaian perkembangan emosi umum bayi:

0-3 bulan

Merasa nyaman dengan orang dewasa yang familiar dengan mereka

Berespon positif ketika disentuh seperti tersenyum

Umumnya akan terdiam ketika diangkat

Mampu mendengarkan suara-suara

Tersenyum dan senang ketika distimulasi secara sosial, misalnya diajak ngobrol

Dapat ditenangkan oleh ayunan (diayun oleh orang dewasa)

3-6 bulan

Berespon ketika namanya disebut

Mampu tersenyum dan tertawa dengan keras

Menangis saat marah, dan mencari kenyamanan (seperti mencari kenyamanan di gendongan bunda)

Suka melihat dan berada di dekat orang-orang yang familiar dengan mereka

Mampu memperhatikan perbedaan antara dua orang berdasarkan penampilan, suara atau rasa  yang dirasakan oleh bayi

Tersenyum pada dirinya sendiri di cermin

Senang melihat bayi-bayi lainnya

6-9 bulan Baca lebih lanjut

Categories: dapat dari luar, Parenting | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.