Tentang Seorang Sahabat

Aku tak tahu kapan tepatnya mulai mengenalnya. Yang pasti  jauh sebelum kubisa mengucap, berjalan, dan bisa memahami makna hidup. Mungkin bentang usia yang cukup jauh membuat kami tak sedekat lainnya. Saat kuberanjak dewasa, dia hijrah ke lain kota tuk mengejar asa. Ketika dia kembali, giliran aku pergi menggapai cita. Memory otakku pun tak mampu memutar banyak kenangan dengannya.

Yang kutahu, darinya aku mengenal bahasa cinta yang berbeda. Saat kasih sayang dua orang terkasih menghujaniku, yang kurasa sebagai obat dari kehilangan yang terasa begitu menyakitkan, dia menempaku dengan cara yang belum bisa kupahami.

Masih terbayang jelas, aku hanya bisa menangis saat segelas air dia tumpahkan tepat di wajah saat aku takjuga bangun ketika muadzin tlah memanggil. Atau sakit hatiku karena bentakan penolakannya di hari yang lain, ketika kuminta antar ke sekolah saat aku tergesa bersiap dengan seragam putih biru, akibat terlambat bangun pagi itu. Begitu kokoh….tak banyak berucap kata tapi kerjanya sungguh nyata. Berapa kali dia coba banyak hal baru yang membuatnya makin kaya pengalaman. Walau tak jarang sikapnya membuatku takut. Terlebih ketika pintu belakang menjadi sasaran jurus karate yang dipelajari, ketika idealismenya tak juga berbuah dukungan.

Aku pun masih ingat ketika dia mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya. Dan setelah itu aku mulai merasakan ada yang berbeda. Tak ada lagi yang mengajakku menjelajah bumi tempatnya menimba ilmu, sekedar jajan atau bersama mencari buku, atau memarahiku ketika aku berlama-lama bermalasan di depan layar kaca. Terlebih saat hari raya, di mana kita biasa berdua menyambung silaturrahim dengan saudara. Ya, aku cemburu, yang kutahu bukan seharusnya. Hingga akhirnya kuingin melihat bagaimana dia berlaku pada keluarganya. Ternyata semua sikap keras itu seakan sirna. Tak lagi kulihat, apalagi pada bidadari kecilnya, yang ada hanya bimbingan penuh kesabaran.

Mencari penghidupan di kota lain tentu menjadi pilihan yang sulit untuknya, karena kutahu cintanya pada dua orang terkasih sungguh luar biasa. Dalam hal ini pun aku kalah….sebagaimana dia lebih sering pulang meski  waktu yang harus ditempuh tidak lebih singkat dariku. Begitupun kemarin, ketika merapi menjadi ancaman. Kuhubungi ibu, suara lembutnya mengatakan dia juga baru saja menelephon.  Tak lama HPku berderit, dia pun mengkhawatirkanku. Demikian pula hari-hari kemudian, dia selalu tahu lebih dulu kondisi di sana dan tak jemu menanyakan kabarku.

Begitulah dia, yang akhirnya kupahami, dia ingin aku berdiri di atas kaki sendiri, berpijak dengan sepenuh kemampuan.

DSC05931

Kakakku, terima kasih tuk semuanya.  Semoga  Allah memuliakanmu. Meski jalan kita tak selalu sama, ku tak ingin tertinggal dalam mencari surga untuk ayah dan bunda…

Iklan
Categories: Jejak Pelangi | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: