Dua Sahabat

Pagi yang berembun, hari kedua acara kami. Mentari masih belum ingin menggantikan tugas rembulan. Sunyi di luar sana, tapi tidak di ruang ini. Hiruk pikuk menyiapkan acara, memfixkan rencana yang telah disusun. Nampaknya banyak dari kami yang kelelahan sehingga beberapa kebutuhan pos terlewat. Padahal setengah jam lagi sudah harus berangkat.

HP berdering, 1 message received. Ketum-Akh Jundi.

“Asw. Afwan ukh, dari fakultas kita yang hadir hanya satu, menurut anti bagaimana?”

Sepertinya belum memungkinkan membahas itu sekarang, batinku.

“Wlkmslm, bgmn kalau dibicarakan stlh acara sj?  Afwan”.

Send. Tidak ada balasan. Aku pun melanjutkan memotong-motong kertas sandi.

Beberapa saat kemudian lapangan samping menjadi sangat ramai.  Para ikhwan riyadhoh.

“Astaghfirullah…ada sms dari akh Rijal semalam. Beliau mau mengambil lampu badai yang dicharge di ruang akhwat. Tapi baru sy baca. Gmn ni…berarti acara malam ikhwan gak pakai penerangan” seru kanis MIPA yang juga koordinator acara, dengan nada menyesal.

“Ya sudah, nanti ditabayunkan. Kita focus ke acara akhwat dulu. Ayo segera berangkat. Anti ikut yang berangkat awal kan de?” SC menanggapi.

“Iya mbak. OK, ini hampir selesai. Lembar terakhir yang diprint”

*******

Jam lima lebih dua puluh lima menit Lima dari delapan panitia berangkat, menyusuri rute yang kemarin dicari dan memberi penunjuk arah. Tiga yang lain tetap di markas, dua menyiapkan konsumsi dan seorang lagi mengkondisikan peserta. Sebagimana kemarin, perjalanan kami berlima diselingi cerita dan menjadi sarana briefing informal.

Lima menit, kami sampai di area persawahan, Berjalan berderet di pematang sambil menikmati sejuknya pagi “Sambil nasyidan seru nich..” celoteh salah seorang di antara kami.

“Iya..di pematang….” yang lain menimpali. “Atau sebiru hari ini…. Bla..bla…bla…” Ramai.

“Eh, hati2 penunujuk arahnya jangan terlewat” SC angkat bicara.

“Siap bu” seru kanis FKIP yang bertugas membawa tanda.

Tiba-tiba kanis FK berseru “Ada yang mau lewat, kita menepi”

“Ini akhwat panitia? Tolong, tolong…” yang mau lewat tadi tiba-tiba berteriak. Kami terkejut.

“Tolong… SOS, ada yang jatuh…” sambungnya terbata.

Kami masih belum sepenuhnya sadar. Ternyata orang tersebut SC ikhwan. Beliau berlari melewati kami

“Aaaaagh…..” beliau jatuh tidak jauh dari tempat kami berdiri.

Teriakan beliau menyadarkan apa yang harus dilakukan, meski belum paham apa yang terjadi.

“De, anti berdua tetap di sini dan coba hubingi yang di pos. Mbak bertiga coba menyusur ke sana” SC akhwat member instruksi.

“Yya mbak”, kataku gugup.

Coba tetap tenang, sambil mengeluarkan HP, dan segera mencari bangtuan. Menghubungi yang di markas..

 Kanis FP, call…  Tidak ada jawaban

Kanis FT dan FISIP sedang ke pasar, Coba hubungi ikhwan.

Ketum-Akh Jundi, call…. Nomor yang anda tuju tidak terdaftar

Coba yang lain,

Ketum FKIP, call… Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi

Astaghfirullah, makin panic… 

Ketum MIPA, call… tuut..tuut…  tidak diangkat

Redialling… tetap tidak diangkat

Ketum FT, call…tuut..tuut…no answer

Redialling…  tidak diangkat juga

Siapa lagi? HP baru hilang, dua pekan pakai HP pinjaman. Tidak semua nomor tersave.

“Ukh, minta nomor panitia” kataku pada kanis FK yang bersamaku saat itu.

“HP ana mati ukh”…

Sedetik kemudian, Kanis FP calling…

“Assalamu’alaykum”

“Wa’alaykumussalam”

“Ukh, tolong peserta ditahan dulu. Sepertinya harus dicancel, ada yang unpredictable” kataku.

“Kenapa ukh?”

“Saya kurang tau pastinya, kabarnya ada yang jatuh. Kita doakan”

Tuut..tuut.. Ketum FT calling….waiting..

“Ukh, tolong sampaikan ke ikhwan yang di markas untuk segera ke sini. Ini dulu ya ukh, afwan. Nanti saya kabari lagi.”  Terputus.

Ketum FT calling…

“Assalamu’alaykum….”

“Wa’alaykumussalam, ada apa ukh?”

“Antum di markas?

“Iya, ada apa?”

“Tolong segera ke persawahan sebelah utara markas, ajak teman-teman. Segera. Bawa motor dan bilah bambu” sahutku.

“Ada apa to?”

“Saya kurang tahu, ini SC ikhwan menyampaikan ada yang jatuh, tapi…..” tak kuasa melanjutkan

“Siapa? Jatuh di mana?” suara panik di seberang

“Sudah ke sini saja dulu” jawabku.

“Ya, segera ke sana”

Sedikit lega, bantuan segera datang. Tapi Pak SC tadi?

“Ukh, kita harus gimana? Itu Pak SC pingsan atau kenapa?” tanyaku pada akhwat di sampingku, melihat SC tak bergeming.

“Coba kita mendekat” jawabnya.

“Afwan, antum gakpapa?” tanyaku kemudian.

Beliau menangis….

”Allah…Allah….mereka….”suaranya tercekat

“Ada minum ukh?” bisikku.

“Enggak, tadi dibawa yang ke sana” jawabnya.

“Siapa akh?” tanyaku pada SC.

“Jundi dan Rijal” menangis lagi….”Allah…Allah…”

“Innalillahi…..sudah, antum tenang dulu, semoga saja…..”

“Tapi sudah terlambat….lama mereka tak muncul…” sahutnya memotongku.

Hening. Aku tidak tahu harus bagaimana, masih terkejut dan tidak percaya.

Ikhwan lama sekali, batinku, Coba menghubungi mereka lagi sambil terus mencari keteranag dari SC.

Sepuluh menit kemudian mereka datang.

“Akh, tolong Pak SC. Sama ada yang ke sana. Saya tidak tahu lokasinya, tapi coba disusuri saja jalan ini’ kataku sambil menunjuk.

Beberapa ikhwan langsung lari.

“Saya ikut” seru SC, kali ini sudah lebih tenang.

“Antum bisa  Akh?” tanya salah seorang ikhwan.

“Bismillah….”

“Apa tidak sebaiknya antum ke markas saja?” tanyaku.

Beliau menggeleng.

“Ya, jalannya dibantu”

******

Tengah persawahan yang sudah dipadati warga.

Ikhwan sibuk menelefon, mencari bambu, mencari tali, atau mengukur kedalaman. Ketum FKIP menggigil di tepi, nanar memandangi sungai.

“Ukh…..?” sesampainya di sana aku ingin bertanya pada yang lain, tapi tak bisa.

“Sudah de, tenang, perbanyak dzikir. Kita serahkan semua pada Allah” SC menenangkan kami.

“Jangan…jangan nekat…” teriak beberapa orang. Rupanya ingin mencagah ketum FP yang bertekad mencari, dengan tali dililit ke tubuh.

“Byuurr….”

Beliau menceburkan diri, lalu menyelam. Beberapa saat tidak muncul, kekhawatiran makin menjadi .

Beliau muncul, lalu menyelam lagi…seperti itu beberapa kali.

“Tadi sudah coba kontak ikhwah di Solo dan SAR, semoga bantuan segera datang” SC akhwat menjelaskan. “Kita tunggu sambil memperbanyak doa”

Suasana sekitar ramai, namun hati hening. Beberapa ikhwan senior datang. Sudah jam 8.. Lebih dari dua jam. Ya Allah…..

Warga dan ikhwah yang mencari tak juga menemukan mereka.

*****

Bus menuju Solo melaju pelan, di dalamnya kami terdiam. Menerawang memandang ke luar. Banyang itu belum jua hilang. Setengah jam yang lalu tim SAR datang dan berhasil mengangkatnya. Dua jenazah itu, sahabat kami, dievakuasi di depan mata kami.

Langit yang terharu menyambut mereka, pun meneteskan air mata. Hujan siang itu, untuk Rijal dan Jundi…

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah, irji’ ii ilaa robbika rodhiyatammardhiyyah, fadkhuli fii ‘ibaadii, wadkhuli jannati…

 

-Bumi Bengawan, pertengahan 2008-

Iklan
Categories: Jejak Pelangi | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: