Kota Bercahaya

Kota bercahaya. Salah satu tempat yang ditargetkan akan dikunjungi bulan ini. Di sanalah saat ini sy seharusnya berada, atau setidaknya dalam perjalanan menujunya. Rencana telah disusun, tinggal berangkat di hari-H. Ternyata Allah belum mengizinkan kaki ini melangkah ke sana.

Hari ini menjadi hari yang bersejarah untuknya. 252 km di sana, tengah terbacakan janji suci yang mengguncang ‘Arsy. Ya, dia telah menggenapkan separuh dien-nya. Dia yang sy tidak tahu sejak kapan mengenalnya. Yang teringat adalah hari-hari penuh warna bersamanya. Sangat bersyukur bisa mengenalnya.

Sosok yang penuh ceria. Baik hati, tidak sombong, dan tidak suka menabung (?). Dia dengan segala ciri khas dan keunikannya. Ngapak, cara berjalan yang khas, kesabaran, kecerdasan, pengorbanan, totalitas, ketlatenan, kebiasaan mengunci kamar ketika ruang itu terkena badai Pasifik, ide-ide unik, rapi dan sistematisnya, pasang wajah don’t disturb ketika ingin menyendiri di gua, kebiasaan salah kirim sms, guyonan persiapan nikah yang sudah sejak lama dia siapkan (oups..gak bisa nahan tawa kalo inget ini..), dan banyak hal lain yang menyemai kerinduan.

Belum terlupa rasa bersalah yang buatnya meleleh ketika suatu tugas belum sempurna terlaksana sehingga (menurutnya) orang lain kesulitan karenanya (memories of Muktamar 2006). Membuat kami menyepakati bahwa air mata adalah pemanis jalan, terlebih bagi rumah kecil itu *smile*. Atau ketika kami berempat, bersama 2 senior, menghabiskan hari dan malam di Gua Nias dengan beribu cerita, repalnning, bergelas-gelas jus & dzakya, kacang, nasi goreng, paklay, dan banyak jenis makanan lain (a walk to remember @ 1st Sherina sebelum ganti nama –lupa dulu nama awlanya apa-), juga saat harus menawarkan tiket seminar dengan branding baru, SETIA turun harga, saat mendekati hari-H, karena minimnya peserta.

Masih ingat pula wajah yang berseri ketika sebuah tulisan membuatnya harus berdiri di podium pada satu acara di sebuah hotel dan menerima penghargaan dari BI, juga rona bahagia saat ia mengenakan toga. Dan, tentunya saat ini berlipat kebahagiaan tengah menyelimuti hati.

Mbak Oshinku, selamat ya. Meski raga tak di sana (‘afwan jiddan, ngapunten sanget, maaf beribu maaf-bukannya tidak mengupayakan..tp memang belum berkesempatan..), insya Allah diri ini hadir melaui derasnya kucuran doa.

Barakallahulaka wabaraka ‘alayka wajama’a baynakuma fii khair….

Iklan
Categories: Jejak Pelangi | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: