Catatan Perjalanan

Nama kota ini sudah sering saya dengar di pelajaran sejarah atau geografi saat SMP dulu, namun hanya sekedar mendengar dan tahu, sama sekali tidak terbersit niatan akan menjadikannya terminal kedua setelah kota kelahiran. Terlebih bagi masyarakat di daerah saya, secara geografis kota ini terasa sangat jauh dan banyak hal tentangnya yang terhijab pesona Jogja.

Pertengahan tahun 2005 menjadi kali pertama saya menginjakkan kaki di sini. Tentunya untuk jangka waktu yang lama, karena kalau sekedar lewat sepertinya pernah, saat ke Gerojogan Sewu bersama rombongan karyawisata sekolah Ibu. Saat itu saya beserta teman dan keluarganya melakukan survey awal di kampus yang akan menjadi almamater kami. Beruntung bisa diterima di kampus di kota ini tanpa harus berjejalan dengan ribuan teman yang mengikuti ujian masuk. Hari itu saya pun baru tahu kalau kampus saya adalah Universitas Sebelas Maret atau yang biasa disingkat UNS (jadi maklum kali ya kalau sampai sekarang masih banyak yang mengira UNS = Univ Negeri Surakarta, hehe). Kurang lebih satu bulan kemudian barulah saya kembali ke kota ini, dengan bekal yang terlalu sedikit jika disebut sebagai pindahan. Ya, biasa saja, seperti orang yang hanya akan bermalam beberapa hari,  sedang perlengkapan lain diangkut  pada setiap kesempatan pulang.

Belum hilang dari ingatan betapa ibu begitu berat melepas anak bungsunya, dan berulang kali berandai saya diterima di kampus yang lebih dekat dengan rumah. Dari hati yang terdalam saya memiliki harapan yang sama, meski hal itu tidak bisa mengubah keadaan. Bermimpi merajut cita di Psikologi kampus biru, tapi “terlanjur” diterima di jurusan yang entah siapa yang memilihkan saat itu (oups.. Astaghfirullah..gak bersyukur banget ini..). Belum lagi setiap bertemu teman-teman hampir semua berkomentar sama, “Kok gak nglanjutin di Jogja atau Semarang aja?”

Bagaimana dengan saya? Hmm…campur aduk… merasa berat  harus jauh dengan orang-orang terkasih, masih ingin melanjutkan planning pribadi, namun harus berhadapan dengan konsekuensi atas sebuah pilihan. Kemudian saya belajar meyakini ini sebagai bagian dari scenario-Nya, setelah dikuatkan oleh seorang mbak, “tentu Allah punya rencana indah kenapa Indah harus di sana”

Akhirnya….saya harus berdamai dengan panasnya cuaca, beradaptasi dengan air yang tidak begitu jernih (mohon dimaafkan, masih pakai standar mata air kaki Merapi :D), harus bersabar dengan macet, terbiasa dengan crowdednya lalu lintas yang memaksa ikut ‘ngawur’ di jalan dan belajar menjadi pembalap (Alhamdulillah, yang ibi belum sukses sampai sekarang),  membiasakan diri tidak berteman bintang karena langit tertutup polusi, mesti rela menempuh 4 jam untuk bertemu Bapak Ibu (termasuk nunggu bis-nya, ngetem-nya, asap rokoknya), dan tentu saja, hidup mandiri dengan segala definisinya.…tidak ketinggalan panen air mata saat homesick.

Tahun pertama…melalui hari dengan masih menyimpan keinginan pindah kampus. Ikut SPMB atau USM STAN. Tapi ternyata keinginan itu berbuah positif…karena merasa hanya akan hidup di kampus ini satu tahun hingga ingin benar-benar mengoptimalkan. IP? Jangan salah, meski harus berdarah-darah, IP dua semester pertama bisa menjadi tabungan bagi semester-semester berikutnya yang grafiknya menurun tajam :P, sementara di organisasi pun saya menjadi rakus. Lima amanah sekaligus di satu waktu, karena kePDan yang luar biasa, berhusnudzon tahun depan sudah tidak di sini sehingga hanya sebentar bisa berkontribusi.

Anehnya, di tahun kedua dan seterusnya saya menjadi menikmati itu semua. Senang dengan dinamisasinya, bergerak dengan ritme yang jauh berbeda dengan masa SMA, bisa mencicipi aneka kuliner, mengenal budayanya, mengunjungi tempat-tempat sejuk di sekitarnya…kebun Teh, Tawangmangu, Balai Kambang,, menyukai sudut-sudut kota di mana rindu disemaikan… masjid Fatimah, Slamet Riyadi, Ngarsopuro, masjid Agung, Klewer, PGS, stasiun, terminal,, tak lupa titik titik di mana perjuangan digelorakan…Mesen-Gladak-Kota Barat, Sriwedari, bukit Uhud NH,, dan  yang pasti, bersyukur atas banyaknya saudara yang dipertemukan Allah di sebuah jalan panjang.

Enam tahun, bukan waktu yang sebentar bagi saya untuk kemudian bisa berkata: Solo terlalu indah untuk ditinggalkan..

Iklan
Categories: Jejak Pelangi | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Catatan Perjalanan

  1. Subhanallah,..
    Indahnya bersyukur,..
    Alhamdulillah,..

    💡

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: