Inspirasi Ketegaran

Hari itu, seperti pekan-pekan sebelumnya, sy dan teman-teman mendatangi ta’lim rutin kami. Kala itu, mentor kami menyampaikan kisah teladan yang bagi sy sungguh berkesan.

Adalah Fathimah Sobir, yang setelah suaminya ditangkap mulai mendidik anak-anaknya untuk menapaki jalan yang sama dengan jalan penyebab suaminya dipenjara. Beliau berusaha menghapus air mata perpisahan dan melukis senyum optimis di wajahnya untuk menghadapi kesedihan sebab mereka terpisahkan oleh dinding besi. Beliau pula yang menebarkan asa dan sokongan kepada suaminya untuk tetap komitmen di jalan-Nya, seakan-akan beliaulah yang menjadi penyebab suaminya menghadapi kesulitan hidup.

Demikian halnya dengan Hj. Lathifah Showi, istri Imam Hasan Al Banna, yang tetap pada komitmennya: mendukung penuh gerak suaminya, bahkan merelakan perabot rumahnya diboyong untuk kelengkapan secretariat organisasi. Tak kenal lelah mengobarkan semangat juang pada putra putrinya agar mengikuti jejak sang ayah.

Sosok lain adalah Na’imah Khatab, istri dari Hasan Al Hudaibi, yang menjadikan kisah Ibrahim a.s. sebagai penguat ketika harus melepas suaminya saat ditangkap musuh. Beliau pun menginfakkan harta demi perjuangan, dan tidak bersedia menikmati fasilitas selaku istri pejabat pada masa itu. Begitu pun ketika anak-anaknya ikut ditangkap, dilepasnya dengan senyum keikhlasan.

Aminah Quthb, mujahidah lain yang membuat sy terhenyak, yang merupakan istri dari Kamal Sananiri dan saudari As-Syahid Sayyid Quthb. Beliau dipinang suaminya yang dijatuhi hukuman 25 tahun kurungan. Tidak ada kesalahan yang mereka lakukan selain komitmen mereka terhadap dakwah dan keyakinan kuat memegang prinsip. Beliau pun melakakukan istikharah, dan semua orang terheran-heran ketika beliau menerima pinangan yang walimahnya baru dilangsungkan setelah 20 tahun, ketika suaminya keluar dari penjara.

Sananiri yang dijatuhkan hukuman 25 tahun, dikirim ke rumah sakit penjara untuk menjalani pengobatan setelah menjalani hukuman selama lima tahun. Di sana beliau bertemu dengan Sayyid Quthb dan meminang saudarinya. Sayyid Quthb menyampaikan pinangan Sananiri yang dijatuhi hukuman dan baru menjalani 5 tahun kepada saudarinya. Tidak ada sedikit pun keraguan dari saudarinya untuk menerima pinangan ini. Beliau meminta alamat Sananiri dan mengunjunginya ke penjara. Setelah itu dilaksankanlah proses akad nikah.

Seiring dengan perjalanan waktu, ikatan antara beliau dengan suaminya yang berada di balik jeruji semakin kuat. Kunjungan dan surat-surat yang dikirimnya semakin menambah ketegaran suaminya dan teman-temannya yang berada di penjara.

Ketika beliau dengan didampingi adik Sananiri mengunjungi suaminya di penjara, sang adik bercerita kepada sang kakak tentang kesulitan yang mereka hadapai sejak naik kereta api dari Kairo ditambah dengan perjalanan menuju penjara. Mendengar itu, dan memikirkan apa yang telah terjadi selama ini, termasuk segala kemungkinan yang bisa saja terjadi pada dirinya, Sananiri pun menyampaikan tawaran agar Aminah memilih pilihan terbaik untuk kebahagiaan dan masa depannya. Ia memberi kebebasan pada istrinya untuk menentukan. Aminah pun menjawab mantap, jalan jihad dan surgalah yang ia pilih.

Akhirnya Sananiri dibebaskan dari penjara berpuluh tahun kemudian, dan sejak itu Aminah hidup dengan suaminya dalam suasana yang begitu manis. Hingga delapan tahun kemudian beliau kembali dimasukkan penjara hingga meraih syahid pada tahun yang sama. Tidak ada takziyah adalah imbalan yang harus dibayar agar jasadnya bisa diserahkan kepada pihak keluarga. Dan disebarkan pula isu bahwa Sananiri meninggal karena bunuh diri.

Aminah Quthb, kini tidak lagi menunggu suaminya keluar dari penjara supaya bisa bertemu di dunia, akan tetapi beliau menunggunya keluar dari penjara supaya bisa bertemu di surga. Allah pun mengabulkan doanya, beliau akhirnya pergi dari dunia untuk menemui suami dan saudaranya yang sama-sama telah meraih syahid. Suhbahanallah… romantisme yang mustahil, yang hanya bisa dialami oleh hamba-hamba yang luar biasa.

Masih banyak kisah lain yang disampaikan..dan dengan menyimak kisah-kisah itu membuat sy speechless. Jujur, ingin menagis rasanya saat itu. Merasa tersindir, terhujam palu gobang..atau apalah namanya. Merasa malu…ya, sangat malu. Mengingat kemellowan, kechildishan, dan kegalauan sy menghadapi kondisi jauh dari SahabatHati. Padahal ini tidaklah seberapa dengan kondisi mereka, yang harus siap ketika suaminya tak pulang dan meregang nyawa di medan laga, atau di tiang gantungan karena jatuhnya keputusan peradilan negara.

Mengingat satu bulan ini, sy malu. Sangat malu. Di mana sy benar-benar sulit mengkondisikan diri, meski kemungkinan untuk jauh dari suami sudah terwacanakan sejak kami berkenalan, sekian bulan sebelum pernikahan. Solo-Daejeon untuk 3-4 tahun ke depan, dengan fasilitas komunikasi yang sangat memudahkan, dan kemungkinan untuk menyusul masih terbuka di hadapan. Sangat jauh bukan dibandingkan para mujahidah yang telah terkisah?

Sering sy tertawa sendiri atas kelabilan sy, terlebih ketika kelimpungan mendapat respon yang tidak diduga dari suami. Misal ketika sy message dia dengan kata-kata yang dinilai berlebihan, berhalap balasan yang melegakan. Nyatanya? “Haha..lebay!” itu jawaban yang saya dapatkan. Atau ketika suatu siang sy memessage dengan lirik-lirik lagu kerinduan, muncullah kata “not important” sebagai balasan. Begitulah kami, sy yang melankolis berhadapan dengan sosok sanguinis-koleris. Ya, dia memang sedang menjadikan sy sebagai objek tarbiyah :)

Kalau difikir-fikir, sebenarnya dia di sana dengan sy di sini, memang sangat lebih mengenakkan kondisi sy di sini. Yang di sana harus jauh dari keluarga, harus giat belajar, nge-lab sampai malam, ke mana-mana jalan kaki. Juga atas sulitnya mencari seorang muslim di lingkungan terdekat hingga shalat jamaah hanya bisa terlaksana sepekan sekali ketika shalat Jumat. Tilawah, harus mencuri waktu saat roommate yang seorang Kristiani dari Afrika sedang keluar. Belum lagi cuaca ekstrim yang sangat berbeda dengan di tanah air , dan makanan yang tidak semua bias dimakan karena diragukan kehalalannya. Pun dengan produk-produk daily need lain. Kalau masih ditambah dengan segala keluh kesah atas ‘penderitaan’ sy, bukankah itu akan makin memberatkan?

Sy berdoa semoga Allah selalu melindunginya, dan Allah memampukan kami, terutama sy, untuk bisa menata perasaan. Cukuplah dengan memperkuat sayap sabar dan syukur, serta terus berikhtiar agar mendapat hasil terbaik untuk semua hal yang sedang kami usahakan. Memampukan kami mengelola semuanya, lalu mengembalikan segala risau dalam mujahadah panjang yang menenangkan.

Akhirnya… sy, dibanding para shahabiyah dan mujahidah, amat sangat jauh bedanya. Lantas bagaimana dengan surga? Ya, bagi sy surga memang masih terlampau jauh.. T_T

Iklan
Categories: Hamasah! | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: