bapak dan ibu, guru sejati

Di sore yang dihiasi deras hujan ini, kembali sy ingat dua orang terjasa dalam hidup. Bapak dan ibu.

DSC05922

Kepulangan sy pekan kemarin memang atas permintaan beliau berdua jauh hari sebelumnya, khususnya ibu, yang di satu sisi tidak ingin mengganggu aktivitas sy, namun sangat ingin direwangi ketika rumah ada gawe. Kebetulan Ahad kemarin keluarga mendapat giliran menjadi tuan rumah arisan & silaturrahim keluarga besar. Sudah beberapa kali acara serupa, maupun sekedar gilir pengajian, sy tidak muncul.

Tidak ada yang istimewa barangkali, selain sy bisa kembali merasakan kembali ketulusan dan kegigihan beliau berdua. Hanya berdua di rumah, dan sejak lama sudah mereka-reka persiapan, mulai dari konsums sampai setting tempat, tidak ketinggalan kelengkapan yang dibutuhkan. Ketika sy sampai di rumah hari Sabtu siang, piring dan gelas telah tertata. Sorenya, ketika sy memilih menemui teman yang ingin berbagi  –dan bapak ibu sudah menduga sebelumnya, sampai rumah jam 2 pasti jam 3 sudah pergi lagi ^^v – mereka masih sibuk menyaiapkan segala sesuatunya. Sore hingga malam hujan, sehingga rencana memasang tratag tertunda hingga bakda maghrib. Di luar rencana, awalnya bapak hanya ingin memasang berdua dengan ponakan, namun nyatanya sekitar 10-an pemuda RW datang membantu..dan membuat bapak panik karena belum menyiapkan hidangan, sedang ibu sedang arisan. Sy yang baru datang segera membantu bapak yang sudah setengah jalan di dapur. Bakda maghrib, saat makan malam, kembali sy membuat kecewa karena tidak mau makan [sudah dtraktir teman tadi sore]. Memang, rumus sedari kecil, kl jam makan tiba dan ibu belum melihat sy makan, pasti akan dipaksa makan meski sebenarnya sy baru sj makan 10 menit sebelumnya. Lambat laun sy pun rutin menolaknya.

Bakda isya, ibu mengeluarkan sendok dan tutup gelas untuk di-lap. Sy dipasrahi mengelap tutup gelas, kurang lebih 100 buah, bersama ibu, di depan TV. Sedang bapak memindahkan kursi di ruang tamu ke teras dan rumah depan, agar besok lebih lapang digelari tikar. Beliau mengangkat sendiri. Belum lama berselang, sy sudah menguap dan banyak diam. Ibu yang tanggap, langsung meminta sy untuk tidur..pekerjaan pun diselesaikannya sendiri (??)

Pagi harinya, sy pun tidak banyak membantu kecuali menjadi follower. Ibu melakukan apa..sy dekati, Bapak mengerjakan apa..sy bantu sebisanya, walau lebih sering menolak karena lebih cepat dikerjakan sendiri. Hingga siang, hanya hal kecil yang bias sy lakukan..prestasi paling besar adl cuci piring dan teman-temannya, dibantu 2 sepupu.

Siang hingga sore ketika sy merasa lelah, bapak ibu belum juga berhenti beraktivitas. Bakda isya ibu tidak absen mengikuti yasinan rutin, dan bapak menghadiri undangan aqiqahan, Saya? Tentu saja di rumah berteman TV dan lepy (??)

Hingga pagi berikutnya, hari Senin, bapak ibu yang selalu bangun terlebih dulu tetap konsisten mengalahkan sy yang selalu mengeluhkan udara dingin. Pukul 4 mulai packing untuk balik Solo, ibu yang mengorbankan wirid bakda subuhnya pun segera pulang dari masjid demi menyiapkan keperluan sy. Makanan berlebih dari acara kmrn, lauk, buah salak, mangga..semua dibungkus agar bias sy bawa. Nyatanya, berulang sy protes karena yg dipacking terlalu berat. Ada 2 tas, plus tas baju dan tas cangklong totalnya 4 tas. Repot sekali naik bus dengan bawaan sebanyak itu..di Senin pagi yang selalu ramai pemudik. Alhasil, apa yg sudah ibu siapkan sy bongkar dengan meninggalkan beberapa jajanan, sehingga tersisa 1 tambahan tas saja. Tampak ibu masih berusaha memilah agar ada lagi yang bias dibawa. Ini tidak hanya sekali terjadi, dan tidak pula hanya terjadi pada sy. Kakak laki-laki sy pun selalu mendapat perlakuan yang sama, dan tentu penolakannya lebih besar karena jarang mau membawa-bawa.

Berteman mendung di langit senja, ingin rasanya menemani langit mengucurkan air mata. Ketika merenungi kembali segala ketulusan, pengorbanan, dan hal lain yang patut diteladani dari beliau berdua. Teringat adegan father and daughter yang masih selalu terjadi tiap bapak menjemput, mengantar, dan menemani sy menunggu bus. Atau ketika kecil, bapak yang selalu menemani membeli tas dan sepatu, ibu yang sangat merasa bersalah ketika anaknya terancam tidak bias berlebaran dengan baju baru karena jahitannya tertukar sehingga rela berdesakan di H-1 syawal membelikan baju baru yang lain lagi, yang selalu memeriksa buku tugas dan segera memaksa belajar ketika angka 100 tidak ditemui… atau..yang mana lagi? Terlalu banyak romantisme masa kecil yang membuat sy selalu merindukan mereka. Hingga kini pun, kasih sayang dan perhatian itu tiada pernah lekang…meski sy telah menjadi istri orang..

Bapak, ibu..maafkan anakmu yg sempat bosan dengan sms-smsmu..karena terlalu sering dikirim, menanyakan aktivitas, serta mengabsen sholat & makan..padahal dengan tidak terbalasnya pertayaan itu membuahka kekhawatiran yang seringkali tertumpah ketika sy pulang T_T

Sejujurnya…ingin kulihat mereka tentram di usia senja, tanpa harus diganggu beragam beban pikiran. Namun ternyata sy belum cukup mampu membuat mereka bangga hingga rasai berjuta bahagia..

Iklan
Categories: Jejak Pelangi | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: