berbaik sangka

Entah kenapa, dalam suatu waktu sy merasakan sulitnya berbaik sangka. Dan sulit sekali memberi toleransi atas tindakan saudara sy.

Benar adanya nasihat agar kita mempertimbangkan situasi dan kondisi sebelum melancarkan suatu aksi, agar tidak ada hati yang tersakiti. Sy cukup kaget ketika mendapat cerita ada seorang teman me-sms temannya, isinya meminta klarifikasi tentang satu hal, namun ditulis dengan nada menghujat, menyalahkan, dan dikirim pada timing yang tidak tepat: saat penerima sms sedang merayakan momen bahagia. Kenapa setega itu, pikir sy saat itu. Dan ketika sampai malam tidak juga mendapat balasan, sang pengirim kembali mengirim sms berisi prasangka yang sebenarnya tidak layak disampaikan.

Lain waktu, ketika ada seorang teman akan mempunyai hajat berupa syukuran atas satu fase yang akan ia lalui, teman lain menanyakan pada sy apakah A, B, C  juga diundang. Sy sampaikan mereka juga diundang karena ada undangan untuk lembaga kami, hanya saja kabar tersebut belum tersampaikan kepada semuanya karena beberapa keterbatasan. Dan balasan bernada protes pun diungkapkan, dengan nada sindiran. Meski bisa jadi berniat bercanda, otak sy terlanjur menerima kalimat-kalimat itu sebagai suatu hal yang menyakitkan.

Pada hal yang lain, beberapa kali sy temui upload/ postingan teman di jejaring sosial yang begitu menarik perhatian. Lebih tepatnya menarik untuk dikomentari. Betapa tidak, begitu mudah baginya mengungkapkan aktivitas hari itu secara runtut, lengkap dengan urutan perjalanan dan apa saja bekal yg dibawa. Ditambah foto-foto yang…entah, sy bingung harus berkomentar bagaimana…tp kemudian terfikir, kalau ada yang berniat jahat tentu dapat dengan mudah melancarkan aksinya, mengingat wajahnya begitu jelas, jam berapa-ada di mana-mau ngapain-selanjutnya ke mana begitu gamblang diungkapkan*astaghfirullah*. Belum lagi romantisme dengan pasangan yang…bisa jadi itu suatu bentuk kesyukuran, atau ingin menyemangati diri sendiri dan memotivasi orang lain… Tapi…apa memang harus begitu? Tidak adakah cara lain?

Lagi-lagi prasangka buruk saya yang mendominasi..terlebih mengingat para pelaku hal-hal yang sy contohkan adalah teman-teman yang rutin mengikuti kajian dan aktivitas pembinaan. Meski bukan jaminan, setidaknya sy percaya mereka tau bagaimana seharusnya bermuamalah, bagaimana memilah hal yang perlu disampaikan, memilih mana yang pantas diungkapkan.

Rabbighriflii…sy makin menyadari bahwa tugas kita bukan hanya berbaik sangka pada saudara kita, tapi juga membantu agar saudara kita tidak berburuk sangka pada kita.

Iklan
Categories: Jejak Pelangi | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: