Cita-cita

Barangkali, jika sebuah bertanyaan “Apa cita-citamu?” disampaikan kepada anak usia awal SD, banyak di antara mereka yang akan menjawab “jadi dokter”, “jadi insinyur”, “jadi profesor”, atau “jadi presiden”. Entah kenapa keempatnya begitu laris digunakan sebagai jawaban. Karena doktrin orang tuanya, karena itu merupakan profesi yang paling sering didengar, atau karena terlihat keren? Ah..sy mengada-ada. Alasan terakhir kurang bisa diterima..karena anak seusia itu belum tentu mengerti apa itu keren.

Sy tidak akan menganalisis lebih lanjut untuk mendapat jawaban yang memuaskan. Cukup dengan bertanya pada rumput yang bergoyang (??)

Sy lebih tertarik untuk menceritakan jawaban saat  masih seusia itu. “Guru”. Itu yang sering sy tuliskan ketika sok-sokan membuat biodata singkat kala itu, yang isinya hanya 3: nama, alamat, cita-cita. Namun, sampai kini sy tidak berhasil mengingat mengapa empat huruf tersebut yang sy tuliskan. Pun ketika ditanya oleh ibu guru, “Mbak, besok kalau sudah besar ingin jadi apa?”, spontan sy jawab “jadi guru”. Dan biasanya diikuti pertanyaan, “Kenapa mau jadi guru? Gajinya sedikit lho”, sy hanya tersenyum malu takut sambil menggeleng. *Hhmm..bu guru ada-ada sj..gaji sedikit kan dulu, kalau sudah sertifikasi lain ceritanya 😀 *

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mungkin kata ‘pahlawan’ terdengar sangat keren..ditambah ‘tanpa tanda jasa’, sangat heroik rasanya. Entahlah,, sy pun tak ingat apa sy sudah mengenal arti ‘keren’ atau belum…demikian pula dengan ‘heroik’.

Lambat laun, sy ingat ketika melihat buku pelajaran milik teman, saat itu kami sudah kelas 4 atau 5 SD. Dia menuliskan ‘menjadi dosen’  di bawah barisan nama dan alamat pada sampul buku itu. Sejak itu sy berfikir, ada yang lebih keren dari guru..yaitu dosen. Kakak sy adalah seornag mahasiswa, dan sy anggap dia sangat keren dengan statusnya. Jika mahasiswa sj sangat keren, tentu yang mengajar mahasiswa jauh lebih keren..

Dan ternyata, keinginan yang ikut-ikutan itu mengendap cukup lama di kepala sy, dan tertular sampai pada ibu sy. Ibu, yang sejak sy kecil memiliki passion di bidang pendidikan, meski ‘hanya’ seorang juru tulis & ketik, bukan pengajar, senantiasa menaruk perhatian lebih dalam hal ini. Kontrol study yang ketat dan tidak puas dengan angka 2 pada peringkat di raport..setidaknya terjadi sedari SD hingga SMP, sehingga cukup ‘terpukul’ dengan kemoloran selesainya kuliah sy. Ibu yang selalu memanaskan suhu diskusi ketika sampai pada tema cita-cita, terutama setelah sy menamatkan S1..karena dirasa langkah sy terlalu flat, sakpenake, tidak terarah. Namun kemudian beliau tersenyum lebar ketika sy menikah dan nyicil menjadi ‘bu dosen’ 🙂  meski lambat laun keinginan itu memudar seiring kesadaran akan kapasitas diri dan banyak hal yang sering berjalan menari di alam khayal maupun dunia berfikir sy. Terlebih setelah membaca sepenggal kalimat,
justru karena ingin jadi ibu makanya saya sekolah tinggi tinggi. ibu yang akan mendidik sendiri anak-anaknya jadi putra-putri peradaban. Bukan ibu yang merelakan anaknya dididik pembantu karena ia sibuk jadi kuli di kantoran.

Luar biasa bukan?

Lalu, kalau sekarang ditanya apa cita-cita sy sebenarnya? Dapat dipastikan sy belum bisa menjawab dengan pasti…karena sy hanya ingin menjadi wanita mulia yang hidup bahagia. Mulia dan bahagia di akhirat dan di dunia..karena termasuk hamba yang diridhai; mampu menjadi istri yang taat pada suami, anak yang berbakti, ibu yang bisa diteladani & ummi yang mencetak generasi rabbani, bermafaat bagi umat, dan menjadi bagian dari masyarakat yang mampu berkontribusi & memberi solusi.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad

 

Iklan
Categories: Jejak Pelangi | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: