Bersabarlah Jiwa

c

Teringat akan saat itu, 17 September 2011. Sore hari berhias mendung yang menggantikan gerimis, kali pertama kali bertemu untuk berkenalan. Dalam hitungan waktu yang tidak lama, mengerucutlah keputusan dia akan berkunjung ke rumah. Tidak disangka waktu yang dipilih adalah 25 September, satu minggu sejak hari itu. Lebih tidak disangka lagi, dia datang tidak hanya berdua, melainkan dua rombongan, yang ternyata langsung menyampaikan maksud. Kupinang engkau dengan basmalah, kurang lebih seperti itu maksud yang tersampaikan. Tak perlu waktu lama untuk memutuskan penerimaan maksud itu, kemudian berlanjut pada komunikasi antar-keluarga.

Dua bulan setelahnya, 27 November 2012, terucapkan janji suci, di tempat suci. Masjid Nuurul Islam -belakangan sy baru tau kalau masjid di lingkungan rumahnya memiliki nama yang sama- menjadi saksi dimulainya sunnah bersejarah yang membawa kami pada tanggung jawab yang lebih. Hari-hari kemudian diisi dengan perkenalan ke-2, ke-3, dan seterusnya, beserta persiapan rencana studi lanjutnya. Hal ini telah disampaikannya sejak awal, dan tak bisa dipungkiri, menjadi satu hal yang membuat bimbang. Ragu akan kemampuan diri berteman jarak dalam mengarungi hari.

27 Februari 2012, pertama kalinya kami berpisah. Dia berangkat dari Cengkareng. Kami menuju Bogor 6 hari sebelumnya, menyengaja silaturrahim dulu sambil mengurus persiapan keberangkatan. Terjadwal 3 Maret dini hari dia akan terbang, namun sy tak mengantar hingga berangkat. Bukan karena tidak ingin ber-mellow ria, tapi karena alasan pekerjaan dan ada jadwal presentasi yang tidak bisa diloby. Alhasil, sepekan sejak sy pulang menjadi pemanasan LDR bagi kami. Tidak mudah ternyata..walau masih bisa telfon-telfonan dan sangat mungkin bertemu (sy pernah nekat mau ke Bogor lagi), sungguh LDR ini menjadi satu pembelajaran.

Tak terasa telah hampir 11 bulan..waktu yang tidak sebentar untuk dilalui sendiri. Berbekal permohonan agar diberi kesabaran yang lebih. Sering sy mengeluh, putus asa, bahkan menyalahkan kondisi, terutama saat iman ini menipis, merasa ingin meninggalkan semua kewajiban dan segera pergi..  Sering sy sok kuat, menghibur diri dengan bermacam cara, hingga muncullah status

Seringkali kita menyalahkan jarak, padahal sebenarnya ia sangat baik apda kita. Mengenalkan pada sabar yang sebesar-besarnya, mengingatkan untuk terus bersyukur atas luasnya lahan pembelajaran yang dihamparkan, menjauhkan dari pertengkaran, hadirkan rindu, dan hadiahkan bahagia yang lebih pada tiap perjumpaan (Sep 18, 2012)

Namun, lambat laun sy merasa stok sabar makin menipis..menjadi lemah dan kehilangan semangat. Galau tingkat dewa. Sering trenyuh mengingat dia yang berjuang di sana, beraktifitas dari pagi sampai menjelang tengah malam, masih harus memasak dan menyiapkan semua kebutuhannya sendiri..padahal dia punya istri. Di belahan bumi yang lain, istri yang tidak pandai bersyukur ini makin rajin mengeluh, merasa bosan dengan rutinitas harian yang berasa monoton, merasa sepi karenga tinggal sendiri, jauh dari keluarga, dan beragam keluhan lain yang sering direngekkan padanya.

Padahal, kalau dipikir-pikir, jalan keluarnya sudah ada, kuncinya pun ada pada sy : segera lulus. Tapi ini? Diingatkan dan dimutabaahi malah marah. Hm.. Jika terus begini, harusnya sy tidak boleh menyalahkan siapapun saat langkah ini makin berat, atau ketika beberapa waktu terakhir terasa sulit mengendalikan jiwa yang kerap mengembara. Jasad sehat, tetap beraktifitas seperti biasa, namun ‘isi’nya terbang..melayang entah di mana.

Barangkali sy memang sedang tidak sehat, perlu terapi ruhiyah, kembali membulatkan tekat dan menguatkan semangat agar mampu kembali tsabat.

Iklan
Categories: Jejak Pelangi | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Bersabarlah Jiwa

  1. Sonia Atika

    Namanya juga belahan jiwa. Separuhnya ada, tapi separuh lagi nun jauh di sana..
    Jadi wajar sekali kalau merasa ‘hampa’, sy dulu menyebutnya ‘zombi’ hehe..

    Semoga segera disatukan, agar merasa utuh kembali..
    Aamiiiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: