Ramadhan Loading

Selalu saja ada aroma berbeda ketika ia menyapa. Ramadhan..sungguh sy merindukannya. Namun entahlah..barangkali rindu itu belum bertalu karena hitamnya hati oleh dosa, sehingga tiba di pintunya pun masih terasa biasa.
Rabbighfirlii..

Seharusnya kesyukuran itu kian membuncah atas kesempatanNya untuk menikmati ramadhan bersama suami. Teringat tahun lalu, di mana aktifitas kampus telah menipis, dn sy tinggal sendiri di kontrakan. Sungguh sangat menyiksa, buka dan sahur sendirian, demikian tidak produktif, barangkali karena kondusifitas yang belum terbangun. Jauh berbeda dengan yang sy rasakan ketika masih aktif dengan beragam aktvitas di kampus maupun berburu ifthar dengan teman kost.

20120406_134723

Dan kini, ramadhan di negeri minoritas, justru tantangan yang menghadang makin beragam. Setidaknya di awal, ketika harus pandai-pandai mengkondisikan diri akan datangnya tamu istimewa. Tidak ada takbir beriring pukulan bedug, atau adzan bersahutan, atau puji-pujian yang menggetarkan hati. Berikutnya, harus siap dengan minimnya shalat jamaah (kecuali dg suami) karena jarangnya masjid dan jauhnya mushalla yang menjadikan tidak bisa tiap saat ke sana. Lalu tentang musim panas dengan cuaca yang berubah, namun tidak mengubah takaran siang selama 16,5 jam. Namun bagi sy yang tidak banyak beraktifitas di luar, barangkali itu belum seberapa, sebagaimana yang harus dihadapi para pekerja dan mahasiswa yang seringkali untuk shalat saja harus mencuri2 waktu, menghadapi pertanyaan tentang jilbab, mendapati wajah iba karena menganggap puasa tidak manusiawi..membiarkan orang kelaparan dalam waktu yang lama *Korean sangat toleran dalam hal agamakepercayaan, namun faktor kemanusiaan sering membuat mereka kasihan pd kami :)*.

Apakah kondisi ini harus dihadapi dengan keluh?
Apakah karenanya akan menyurutkan semangat untuk melipatgandakan amal baik?
Apakah itu akan sy jadikan alasan untuk tidak optimal beribadah?

Sesungguhnya orang beriman tak kan bosan meraih manfaat berfikir, tidak putus asa dalam menghadapi keadaan, dan tidak akan pernah berhenti berfikir dan berusaha senantiasalah berusaha tuk menjadi yang terbaik. Tapi janganlah merasa menjadi yang terbaik karena Allah Maha Mengetahui segalanya.

Beruntunglah orang-orang yang memperhatikan semangat dalam tiap pergantian waktu, menjaga niat tetap dalam kebaikan, menemukan Allah dalam gerak langkahnya dan menjadikan Allah sebagai tujuan akhir hidupnya.

Iklan
Categories: Cerita dari Korea, Jejak Pelangi | Tag: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: