Belajar Masak

Alhamdulillah, satu hikmah yang sy petik selama kurang lebih dua bulan mengunjungi suami di Korea adalah jadi lebih rajin memasak πŸ™‚ Lebih tepatnya karena tuntutan kondisi, di mana kami harus maka tapi tidak bisa jajan sembarangan karena faktor kehalalan makanan yang belum bisa dijamin. Setidaknya dengan mengolah makanan sendiri, kita bisa memilih bahan dan bumbu yang halal serta bisa menyesuaikan dengan selera sebagai warga Endonesya.

Pada awalnya sy cukup kesulitan karena sayuran yang tersedia di supermarket/ pasar lokal tidak banyak ragamnya (baca: belum lazim bagi sy untuk mengolahnya :D), seperti sawi putih, lobak, daun mint, tauge, terong ungu, kentang daun bawang, wortel, tahu sutera. Jejamuran juga cukup lengkap, tomat dan kol ada namun cukup mahal, dan tidak mudah ditemui sayuran hijau seperti bayam atau seledri. Sedang kangkung, kacang panjang, buncis, bawang merah, tempe hanya bisa didapatkan di Asian food atau world food, dengan harga yang fantastis (1 ikat kacang/ buncis/ kangkung rata-rata 27.000 IDR). Ikan laut cukup banyak tersedia *bisa dapet murah kalau pas diskonan* dan ayam, daging, atau lele biasa sy beli di Halal Food Islamic Center atau Musholla.

Buah-buahan pun tidak bisa dibilang murah. Semangka cukup banyak, dijual dengan harga 15.000 IDR per kilo. Di family mart di lantai dasar asrama dijual per seperempat butir dengan harga 25.000 IDR. Buah lain yang mudah didapat adalah apel (mahal), tomat buah (relatif murah), anggur (mahal), peach, nanas (mahal), kiwi (murah), jeruk (mahal). Yah, rata-rata harga bahan makanan di Korea memang mahal, terlebih jika dikurskan ke rupiah.
Sy sering kepengen ngerujak..membayangkan ada pepaya, jambu, bengkoang, mangga, kedondong..hmm..yummyy
Jadi ngelatur. Ceritanya, di sini sy jadi terbiasa memasak sendiri, dan bagi sy itu amazing mengingat sy tidak memiliki keterampilan dalam masak memasak dan selama ini sy lebih sering bel sehingga niat untuk belajar masak hanya berhenti sampai niat. Sy dulunya hanya bisa tumis ala kadarnya, jaraaang sekali mengolah daging atau udang, dan sama sekali tidakΒ  bisa membuat jajanan. Alhamdulillah, sekarang jadi hoby browsing ke blog para pakar, seneng mengoleksi resep, beberapa kali praktik membuat jajanan (cake pisang, pempek, risoles -> pengalama seru :D), dan berniat akan lebih sering praktik terutama kalau sudah di Indonesia dan mudah mendapat bahan-bahannya. Sedang pengen bikin es pisang ijo gara-gara di acara One Indonesia Day suami jajan es tsb dan doyan banget, trus inget dulu suka jajan es ini kalau ngabuburit di depan kampus. Tapi eh tapi..pisang hanya nemu pisang ambon, belum punya kukusan, dan ga ada daun suji. Well, sekarang praktik yang memungkinkan dulu *dari sisi budget, ketersediaan bahan, dan ketersediaan alat*, semoga nantinya sy bisa masak, setidaknya untuk dikonsumsi sekeluarga πŸ™‚

Finally, pengen ngucapin terima kasih dan apresiasi sebesaar-besarnya ke mbak2 master chef yang dengan ikhlas berbagi resep dan sangat telaten mengupdate. Sangat sangat membantu untuk koki amatir seperti sy ^^ Semoga Allah memberi balasan yang baik πŸ™‚

Iklan
Categories: Cerita dari Korea, Jejak Pelangi | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: