Ramadhan yang Berbeda

Jika kita pernah mendengar sebuah lirik “Persahabatan bagai kepompong yang mengubah ulat menjadi kupu-kupu”, boleh kiranya kita sebagai Muslim menggubah menjadi “Ramadhan adalah bulan kepompong yang akan mengubah kita menjadi kupu-kupu”. Sebuah ungkapan sarat makna, yang memfirasati bulan suci sebagai momen perubahan diri. Sebagiamana ulat bulu yang menakutkan, ia menjalani satu fase dalam hidupnya  menjadi kepompong, kemudian menjadikannya kupu-kupu yang indah, yang disukai karena anekaragam hiasan alami yang dimilikinya.

Demikian pula dengan manusia, yang tidak pernah luput dari dosa dan alpha. Allah memberikan kesempatan untuk bertemu dengan bulan mulia, bulan bergelimang pahala, bulan dengan beribu keberkahan. Jika kita masuk ke dalam kepompong Ramadhan, kemudian segala aktivitas kita sesuai dengan ketentuan metamorfosis dari Allah, niscaya akan didapatkan hasil yang mengagumkan yakni manusia yang berderajat taqwa, dengan keindahan melebihi yang dimiliki kupu-kupu.

Barangkali akan terasa mudah ketika segala aktifitas ibadah di bulan mulia ini dilakukan di lingkungan yang kondusif, di tengah masyarakat yang kental dengan nuansa keislaman. Namun akan berbeda cerita apabila kita menjalani Ramadhan di lingkungan mayoritas non Muslim yang bahkan tidak mengenal  apa itu Islam. Tentu akan lebih sulit, namun di situlah tantangan dan seninya. Sebagaimana pengalaman saya melaluinya di negeri Gingseng, Korea Selatan.

Tidak terasa hampir separuh jalan saya jalani Ramadhan di sini, dan Alhamdulillah telah mengakrabi suasana yang tentu saja berbeda. Tidak ada kegaduhan saat sahur, tanpa suara adzan yang biasanya terdengar bersahutan, dan tiada keramaian pasar dadakan yang turut meramaikan sore. Saya pun harus terbiasa shalat munfarid, atau berjamaah hanya dengan suami.

Kami tinggal di asrama kampus di Kota Daejeon, salah satu kota metropolitan di Korea bagian tengah. Di sini terdapat Masjid yang menjadi Islamic Center (ICD) dengan jarak tempuh 40 menit dengan berjalan kaki dari tempat kami tinggal. Hal ini membuat kami jarang shalat di sana, mengingat waktu isya adalah pukul 21.32 sedang suami biasa pulang dari Lab di atas jam 23.00. Tarawih di ICD biasa selesai pukul 23.30, sehingga jika shalat di sana baru bisa sampai asrama menjelang tengah malam.

Di kota ini terdapat sebuah mushalla yang diinisiasi oleh para pekerja. Mushalla An Noor ini bukanlah bangunan khusus dengan mustaka yang khas. Ini adalah ruko tiga lantai yang disewa sebagai tempat berkumpul sekaligus sekretariat IMNIDA (Ikatan Muslimin Indonesia di Daejeon) di lantai dua, dan dijadikan tempat shalat di lantai tiga. Selalu ada kebahagiaan ketika kami mengunjunginya tiap akhir pekan, meski harus menempuh waktu satu jam dengan bus dan subway. Bertemu saudara setanah air, masak bersama, buka bersama, berlanjut shalat berjamaah dan tadarus, sungguh bisa mendatangkan nuansa Islam kampung halaman di tanah rantau.

Makan bersama di mushalla selalu menjadi hal yang kami nantikan. Selain karena gratis, makanan yang disediakan bervariasi dan terjamin kehalalanya. Mencari makanan halal di sini bukan hal yang mudah. Kami biasa membeli daging dan ayam di Halal Food atau toko di musholla/ ICD, dan membiasakan meneliti makanan (kemasan) agar setidaknya bebas dari fork. Kami cukup terbantu dengan dikeluarkannya guideline halal food oleh Korean Moslem Federation (KMF). Solusi lain untuk mengatasinya adalah membiasakan masak sendiri. Alhamdulillah, hal ini cukup membantu saat Ramadhan. Tidak ada keinginan untuk mampir makan saat bepergian karena kami tidak biasa jajan di luar. Tentang variasi, seringkali kita merindukan masakan rumahan, namun sayuran seperti kacang panjang, buncis, kangkung, bumbu-bumbu pawon, tepung beras, tapioka, bahkan tempe, tidak dijual di supermarket atau pasar lokal. Harus ke AsianMart atau WorldFood untuk mendapatkannya, tentu dengan harga yang tidak murah. Alhamdulillah Musholla An Noor terletak di dekat pusat kota dan dekat dengan toko-toko tersebut, sehingga bisa sekalian belanja.

buber

buka bersama

tarawih di An Noortarawih

tadarus di An Noortadarus

Sebenarnya ada satu kampung Muslim di Itaewon, Seoul, di mana ada masjid cukup representatif, rumah makan Muslim, toko perlengkapan Muslim, serta masyarakat yang lebih terkondisikan akan Islam. Cukup banyak program Ramadhan yang diselenggarakan. Ada keinginan ber-Ramadhan di sana, namun belum kesampaian mengingat jarak yang cukup jauh. Dibutuhkan waktu 3 jam perjalanan untuk ke sana.

Masjid ItaewonMasjid Itaewon

Hal berikutnya yang kami hadapi adalah Ramadhan tahun ini bertepatan dengan musim panas. Tidak hanya cuaca yang terik yang menjadi tantangan. Waktu siang yang lebih lama daripada malam menjadikan kami harus berpuasa lebih lama, sekitar 16,5 jam. Namun kami bersyukur karena masih banyak saudara Muslim di belahan bumi lain yang harus berpuasa lebih panjang, sebagaimana di Belanda dan Belgia dengan 18,5 jam, Islandia 20 jam, dan di Denmark 21 jam. Hal ini menjadikan kami harus pandai-pandai mengatur aktifitas, terutama aktifitas malam hari. Saya dan suami sempat tidak tidur di dua malam pertama Ramadhan karena khawatir bangun kesiangan. Kami baru selesai beraktifitas jam 00.30, sedang jam 03.32 sudah subuh.

Tantangan berikutnya adalah sebagian besar Korean tidak mengenal Islam. Sering saya dan teman-teman muslimah dipandangi dari atas sampai bawah karena pakaian kami, atau ditanya apa yang kami pakai, apakah tidak merasa panas, mengapa memakainya, sampai pada pertanyaan tentang warna hijab serta panjang pendeknya. Tidak sedikti pula yang menganggap Muslim Indonesia adalah vegetarian karena tidak mau makan daging (padahal kami tidak makan karena ragu kehalalannya-pen). Dan ketika puasa, tidak sedikit yang takjub, di siang yang panas tidak makan dan tidak minum sampai menjelang malam, apa kami tidak lapar? Ada pula cerita teman suami yang setengah dipaksa minum oleh tetangga asramanya karena kasian mengetahui kami tidak makan dan minum dari pagi. Pada awalnya saya agak risih dengan tatapan mereka dan bingung ketika ditanya, namun lambat laun terbiasa, bahkan sangat senang jika mereka menanyakan tentang hijab dan Islam. Bersyukur ada sebentuk kepedulian, dan barangkali bisa menjadi pintu hidayah.

Alhamdulillah, semakin hari kami menikmati Ramadhan dan bisa menjalaninya dengan lebih ringan. Tidak sabar rasanya merayakan hari kemenangan, haru membayangkan mendengar takbir bertalu, dan akan bertemu dengan saudara-saudara Muslim di KBRI untuk shalat Ied dan bersilaturrahim. Kami akan bahagia karena iman masih menyala, dan akan selalu bahagia karena meski di sini hanya 5%, kami diberikan kesempatan untuk mewarnai belahan bumi-Nya yang lain.

Iklan
Categories: Cerita dari Korea, Jejak Pelangi | Tag: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: