Repost: Perkembangan Kognitif Anak 2-4 tahun

Perkembangan Kognitif Anak Usia 2-4 tahun

Oleh Chairunnisa Rizkiah, S.Psi

:idea:Perkembangan kognitif adalah perubahan dan kestabilan dalam kemampuan mental (mental abilities), seperti kemampuan belajar, atensi, daya ingat, bahasa, kemampuan berpikir, penalaran, dan kreativitas (Papalia, Olds, dan Feldman, 2009). Kata ‘mental’ mengacu kepada hal-hal yang berhubungan dengan pikiran. Sederhananya, perkembangan dalam aspek kognitif mencakup perkembangan kemampuan seseorang untuk berpikir, memproses informasi, serta menggunakan informasi yang sudah diperoleh.

:idea:Aspek kognitif memiliki peran yang penting dalam perilaku manusia. Kemampuan kognitif juga berhubungan dengan
kedua aspek lainnya, yaitu motorik dan psikososial. Kita membutuhkan kemampuan untuk menyerap informasi dari lingkungan dan menggunakannya untuk beradaptasi. Misalnya saat belajar menaiki tangga, anak memproses informasi bahwa naik tangga itu caranya dengan satu kaki bergantian. Saat anak berinteraksi dengan teman, anak juga memproses informasi bahwa orang lain senang kalau ia mau berbagi mainan dan tidak suka kalau mainannya direbut. Pikiran seseorang juga berhubungan dengan perasaan dan perilakunya. Ketiga aspek ini biasa disebut 3P (pikiran-perasaan-perilaku). Misalnya, jika anak berpikir ia dimarahi karena berbuat salah, ia merasa sedih, lalu perilaku yang muncul adalah menangis atau menjauh dari orang lain. 

:idea:Seperti halnya orang lain, anak-anak usia 2-4 tahun juga memiliki pikiran mereka sendiri. Di usia ini kemampuan berbahasa juga mulai berkembang lebih baik, sehingga mereka mulai lebih banyak mengeksplorasi dunia sekitar mereka dengan bahasa. Pertanyaan “ini apa?” sering muncul seiring bertambahnya kosakata dan kemampuan untuk memahami bahasa. Oleh karena itu, pembahasan perkembangan kognitif di sini akan mencakup perkembangan kemampuan berpikir dan bahasa. Dalam perkembangan kognitifnya, anak akan banyak belajar tentang “konsep”. Contohnya:
konsep jumlah (ada berapa banyak benda dalam kelompok benda ini?) dan angka (angka ini artinya ada berapa banyak benda?)
konsep waktu (kapan sesuatu terjadi?)
konsep urutan (apa duluan, lalu apa, lalu apa lagi? Apa yang pertama, apa yang terakhir?)
konsep warna (warna yang seperti ini namanya apa?)
Anak mulai menghubungkan informasi-informasi yang ia peroleh, lalu membuat kesimpulan. Misalnya, hewan yang kakinya empat, berekor, memiliki kumis, dan berbunyi “meong” adalah hewan kucing. Atau semua warna yang seperti itu disebut warna biru.

:idea:Secara umum, anak usia 2 tahun mulai dapat melakukan hal-hal berikut:
· Menunjuk benda atau gambar bila nama bendanya disebutkan
· Mengenali nama orang-orang, benda, dan bagian-bagian tubuh yang familiar baginya
· Berbicara dengan kalimat sederhana (2-3 kata)
· Bertanya tentang nama benda, “ini apa?”
· Mengikuti instruksi sederhana, misalnya “pakai sepatu” dan “ambilkan gelas”
· Mengulangi kata yang didengar
· Memahami arti gestur/isyarat yang familiar baginya, seperti anggukan (iya, boleh), gelengan (bukan, tidak, jangan), telapak tangan di depan (stop, tos)  
· Menunjuk gambar dalam buku yang menarik baginya
· Menemukan benda yang disembunyikan (di tempat yang tidak terlalu sulit), misalnya di bawah selimut atau di balik pintu
· Mengelompokkan benda atau gambar sederhana berdasarkan satu kesamaan, misalnya bentuk atau warna. Note: anak mungkin belum mengenal nama warnanya, tapi ia tahu bahwa warnanya sama
· Bermain peran dan permainan pura-pura (make-believe play), misalnya pura-pura mengangkat telepon, memasak, atau menaiki mobil

:idea:Sedangkan anak usia 3-4 tahun, selain bisa melakukan hal-hal di atas, juga mulai dapat melakukan hal-hal berikut:
· Berbicara dengan kalimat sederhana 3-5 kata
· Menggunakan kata ganti seperti “aku”, “kamu”, “dia”, dan “kita”
· Mengikuti instruksi bertahap, bisa 2 atau 3 tahap sekaligus. Misalnya, “pakai sepatu, ambil tas, lalu berbaris di depan pintu”
· Mulai memahami konsep jumlah dan berhitung, dengan jumlah yang terus bertambah. Anak usia 3 tahun sudah bisa menghitung jumlah benda sampai 10. Konsep “berhitung” dan “mengenal angka” itu berbeda. Anak bisa menghitung sampai 5 tapi ia tidak harus tahu bagaimana tulisan angka 5.
· Mengenal beberapa nama warna. Biasanya warna-warna dasar seperti biru, merah, dan kuning dan warna-warna yang mudah diingat namanya 
· Memahami masalah bila dikaitkan dengan diri sendiri. Misalnya, “Kalau aku dipukul, nanti sakit”
· Mengingat cerita, lagu, atau kata-kata yang pernah didengar atau ditonton, sebagian atau seluruhnya. Juga menceritakan kembali kejadian yang pernah dialami
· Memahami konsep persamaan dan perbedaan, dengan contoh benda yang konkrit. Berdasarkan pemahaman ini, anak bisa mengelompokkan benda berdasarkan kesamaannya. Misalnya “sama’sama makanan”, “sama-sama mainan”, dan “sama-sama buat masak”
· Menyusun puzzle sederhana
· Mengenali susunan kata tertentu yang sudah familiar, seperti tulisan nama panggilannya sendiri dan tulisan yang sering terlihat di rumah atau playgroup/TK tempat ia sekolah
· Mengenal beberapa huruf dan angka
· Bermain dengan imajinasi dan fantasi. Contohnya, pura-pura jadi astronot di bulan, main masak-masakan, pura-pura jadi ibu, dan lain-lain
· Memahami simbol dan artinya. Misalnya “dua” berarti ada dua benda, dan huruf “i” itu huruf yang bentuknya “i”
· Mulai memahami konsep posisi seperti “di dalam”, “di luar”, “di depan”, “di belakang”, “di sebelah/samping”, “di atas”, “di bawah”, dan “kiri-kanan”
· Bertanya dengan kata apa, siapa, kapan, mana, bagaimana (misalnya “gimana caranya?”). Pertanyaan “kenapa” mulai lebih banyak muncul menjelang usia 4 tahun
· Mengenal konsep urutan (sequence) kejadian. Contohnya kegiatan dari anak bangun tidur sampai malam, atau langkah-langkah memasak untuk membuat masakan sederhana seperti jus buah
· Mulai mengenal konsep waktu, seperti sekarang, besok, dan waktu-waktu tertentu seperti “kalau sudah pulang sekolah” dan “malam nanti”. Konsep waktu yang lampau seperti “kemarin” lebih sulit bagi anak usia ini

💡 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendampingi dan menstimulasi perkembangan kognitif anak:
1. Menyediakan sarana informasi, seperti buku, video, suara, kegiatan menjelajah lingkungan, bertemu expert, kegiatan bermain, dan bercerita bersama anak.
2. Terbuka terhadap pertanyaan “ini apa?” “Kenapa?” dan lain-lain yang akan banyak diajukan anak, dan bukan justru menyuruhnya berhenti bertanya karena “berisik”. Kalau orangtua sedang berbicara dengan orang lain atau sedang membicarakan hal lain, anak bisa diminta menunggu sebentar sampai urusan yang lain itu selesai. Anak juga bisa dimintai pendapat terlebih dulu, misalnya “menurut kamu kira-kira kenapa ya?”
3. Jawablah pertanyaan sesuai dengan apa yang orangtua ketahui saja, dan tidak perlu gengsi untuk mengakui kalau ada yang tidak diketahui. Anak malah bisa diajak mencari tahu jawabannya bersama-sama
4. Hindari membuat asosiasi antara dua hal yang bisa membuat anak salah paham, apalagi untuk mengancam anak agar menuruti orangtua. Misalnya, “kalau nangis nanti ditangkap pak polisi”, “kalau ga mau masuk nanti ada badut loh”, atau “kalau nakal nanti disuntik bu dokter”. Jangan heran kalau nanti anak malah takut datang ke dokter atau takut bertemu pak polisi 😅 Atau, gampang memberikan label “nakal”, “bandel”, “bodoh”, dan sebagainya. Akibatbya, setiap kali anak melakukan kesalahan ia akan lebih mengingat label itu daripada mengenali kesalahan dan memperbaikinya
5. Saat anak bertanya pertanyaan yang “ajaib” atau menggunakan kata-kata yang maknanya bisa berbeda/ambigu, orangtua bisa bertanya dulu untuk memastikan apa yang dimaksud anak. Misalnya anak bertanya “kenapa sih dia nakal?”, tanya dulu apa yang dimaksud anak dengan “nakal”. Kalau dengan murid saya dulu, nakal ternyata berarti “ga mau bagi-bagi makanan” #tepukjidat
6. Orangtua juga bisa mulai bertanya duluan untuk menarik perhatian anak dan memulai topik baru. Misalnya, “tadi kan kita ke kebun binatang. Adek lihat hewan apa aja?” Jadi kegiatan rekreasi bisa direview di akhir hari untuk mengetahui seberapa banyak informasi yang anak dapatkan. Kalau yang anak ingat di kebun binatang ternyata cuma “aku tadi makan es krim enak”, mungkin lain kali orangtua perlu usaha lebih keras, hehe…
Sekian materi perkembangan kognitif dari saya. Semoga bermanfaat 🙂

Referensi:
Papalia, D.E., Olds, S.W., Feldman, R.D. Human Development. 11th ed. New York: McGraw-Hill
http://www.education.com/reference/article/Ref_Cognitive/

https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/preschool.aspx

http://firstyears.org/miles/chart.htm
[17:02 02/07/2015]

Iklan
Categories: dapat dari luar, Parenting | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: