terkait perkembangan bahasa

AKTIVITAS MAKAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERKEMBANGAN BICARA SERTA BAHASA

(Konteks Perkembangan Anak dan Sensory Integration)
Makan, bukan hanya bermanfaat untuk perkembangan fisik. Aktivitas makan (mengunyah, mencampur makanan dengan lidah, mengisap dan menelan) juga berpengaruh terhadap perkembangan bicara.
Lho … kok, bagaimana bisa?
Ya, karena perkembangan bicara terkait langsung dengan bagaimana fungsi organ bicara, antara lain rongga mulut, lidah, bibir dan gigi selain juga fungsi organ pernafasan dan pendengaran.
Setiap bunyi akan menggunakan kombinasi beberapa organ bicara tersebut. Misalnya ketika kita menyebut bunyi ‘m’, ‘p’ dan ‘b’ maka kita akan mengatupkan kedua bibir kita dan memberikan tekanan yang berbeda-beda. pada huruf m ada dengungan, sementara b dan p ada tekanan yang diberikan.
Tingkat kesulitan pelafalan huruf juga berbeda, huruf ‘r’ pada umumnya adalah yang paling sulit dilafalkan sementara huruf vokal seperti ‘a’ adalah yang paling mudah.

Kita bisa memahami apa yang disampaikan anak melalui kata-kata terutama bila artikulasi dapat diucapkan dengan jelas. Anak yang bicaranya mudah dipahami berpeluang untuk memiliki emosi yang lebih stabil dibandingkan dengan anak yang artikulasinya buruk. Mengapa? Karena anak yang artikulasinya jelas, maka ia dapat mengungkapkan keinginan dan perasaannya dengan jelas sehingga ia pun lebih cepat memperoleh respon yang tepat dari lingkungan. Anak yang artikulasinya kurang jelas sering frustrasi karena lingkungan tidak bisa memahami keinginannya sehingga direspon dengan kurang tepat oleh orang di lingkungan.
Seperti otot tubuh dilatih supaya lentur dengan melakukan olah raga, maka organ bicara dalam mulut dilatih salah satunya dengan melakukan aktivitas makan.
Anak yang makan beragam makanan dengan beragam tekstur, maka otot-otot organ bicaranya akan lebih terlatih.
– Latihlah anak untuk mengunyah makanan yang liat/alot seperti daging, permen karet, ketan, dll, akan melatih giginya untuk menjadi lebih kuat dan juga otot lidahnya menjadi lentur.
– Makanlah dengan bibir terkatup, sehingga akan membantu anak melafalkan huruf-huruf yang menggunakan bibir.
– Makan-makanan yang crunchy/garing seperti kerupuk, keripik, sereal juga akan merangsang syaraf gusinya.
– Makan bubur, jus buah-buahan dengan ragam tekstur juga akan melatih kemampuan menelan. Huruf ‘k’ dan dengung ‘ng’ banyak menggunakan bagian belakang rongga mulut.
– Makanan cair seperti sup, jus juga melatih kelenturan bibir.
– Makan makanan berukuran besar, akan membuat anak membuka mulutnya lebar-lebar, misalnya memakan apel tanpa dipotong.
– Dll.
Agar anak mau makan-makanan dengan berbagai tekstur, maka tampilan, rasa dan bau pun menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Karena anak-anak yang hanya mau makanan tertentu saja seringkali memiliki gangguan dalam artikulasi huruf-huruf tertentu. Kecuali kalau tekstur makanan yang tidak disukai dapat tergantikan oleh jenis makanan lainnya. Misalnya, anak tidak suka makan emping karena pahit, maka kita bisa menggantikan dengan kerupuk atau keripik yang juga crunchy.
Orangtua perlu mengacu pada tujuan perkembangan sehingga dalam banyak hal perlu mencari cara atau strategi kreatif agar anak mau makan makanan dengan tekstur tertentu. Ada beberapa anak yang sangat sensitif atau sebaliknya kurang sensitif dengan tekstur makanan tertentu. Misalnya anak-anak yang kurang suka mengunyah dengan gerahamnya, sehingga cenderung mengunyah dengan gigi serinya saja. Hal ini selain berakibat makanan kurang tercerna juga mempengaruhi artikulasinya dalam berbicara.
Untuk kondisi spesifik seperti itu tentu saja dibutuhkan metode dan bahkan terapi yang lebih khusus. Namun untuk anak-anak lain pada umumnya, maka membuat variasi makanan yang menarik adalah jauh lebih sederhana dan dapat dilakukan. Perhatikan juga timing yang tepat. Pada saat kenyang anak akan enggan untuk makan-makanan yang kurang menarik baginya.
Selain memanfaatkan aktivitas makan untuk memperkuat dan merangsang organ bicara, lakukan pula aktivitas lain, seperti meniup balon, bersiul, mengeluarkan bunyi a, e, i, o, u di depan lilin yang tak boleh padam. Bermain menjepit sendok dengan bibir. Memainkan lidah ke atas, bawah, samping dan memutar. Menyikat gigi dan berkumur. Dan banyak lagi kegiatan menarik lain yang bisa dilakukan agar anak dapat mengembangkan kemampuan artikulasinya yang merupakan dasar dari kemampuan bicara dan bahasa.

Yeti Widiati

💑💑💑💑💑💑💑💑💑💑💑💑💑💑

SENSORY INTEGRATION, MEMANJAKAN DAN PHOBIA

Apakah ada hubungan antara ketiga hal di atas? Ada. Ketika pola asuh memanjakan dilakukan dalam keluarga pada saat anak masih berusia balita, maka saat remaja dan dewasa anak berpeluang mengalami phobia atau ketakutan dan kecemasan luar biasa terhadap suatu obyek yang secara obyektif tidak harus menimbulkan rasa takut.

Memanjakan yang seperti apa yang berpeluang memperburuk phobia?
Dan, mengapa usia balita itu crucial?
Memanjakan anak, biasanya didasari oleh keinginan melindungi anak secara berlebihan dengan menghindarkan anak dari rasa tidak nyaman baik secara fisik maupun emosional. Orangtua yang memanjakan seringkali tidak sanggup mendengarkan tangisan anaknya, tak tahan melihat anak yang kecewa dan sedih serta tak tahu cara menolak keinginan anak selain memenuhinya. Yang tidak disadari adalah pola asuh memanjakan ini, membuat anak menjadi “lumpuh” secara imajiner, sehingga anak tak mampu membantu dirinya sendiri. Ia punya tangan tapi terbiasa disuapi, ia punya kaki tapi terbiasa digendong, ia punya pikiran tapi tak diajak berpikir dan berdiskusi, ia punya hati tapi tak diajak untuk berempati.

Karena “dibuat lumpuh” maka ia menjadi betul-betul tidak berdaya ketika menghadapi kesulitan yang sesungguhnya secara obyektif pada usia tersebut seharusnya sudah bisa ia atasi.

Misalnya, pada usia balita anak sudah perlu melakukan sensory integration atau menyeimbangkan dan mengkoordinasikan seluruh sensori yang dimilikinya. Ia dapat melihat dan membedakan bentuk. Ia dapat mengenali berbagai macam suara/bunyi. Ia dapat mencium beragam bau dan mengecap beragam rasa. Ia dapat menyentuh berjenis tekstur. Ia dapat mengendalikan sendi juga menyeimbangkan tubuhnya.

Kematangan sensori dipengaruhi oleh perkembangan syaraf dan juga sejauh mana ia dilatih untuk mengembangkannya. Oleh karena itu seorang balita perlu diperkenalkan pada sebanyak-banyaknya stimulus sensori. Selain menghadapi stimulus yang biasa ditemuinya sehari-hari, ia juga perlu diperkenalkan pada stimulus yang mungkin jarang ditemuinya. Misalnya, berjalan di lantai kasar berbatu dan di atas tanah yang basah dan licin. Mendengar suara bising stasiun kereta, hiruk pikuk keramaian pasar dan bahkan malam yang hening di sebuah desa. Mencium aroma khas pasar ikan dan pasar tradisional. Melihat gambar geometris yang kaku dan wajah-wajah orang yang asing. Mengunyah makanan yang bertekstur lembek dan sayuran yang dingin serta agak pahit. Berada di tempat yang tinggi dan bergerak seperti lift dan eskalator. Semuanya perlu dirasakan.

Setiap stimulus sensori yang baru akan membuatnya merasa kurang nyaman. Saat itu maka emosinya akan terpicu. Dalam kadar tertentu, anak perlu belajar untuk mengendalikan emosinya. Bila anak menangis, marah, cemas karena kurang nyaman terhadap suatu stimulus sensori, maka menghindari stimulus tersebut bukanlah cara yang bijak, karena anak tidak diberi kesempatan untuk menguatkan kendali dirinya. Cara menghindarkan stimulus yang tidak menyenangkan ini yang kerap dipilih oleh orangtua yang memanjakan anaknya. Daripada anak rewel karena berbelanja di pasar tradisional yang gerah, becek, hiruk pikuk dan bising, orangtua memilih untuk berbelanja di supermarket. Atau daripada anak tidak makan karena sulit menelan daging yang kenyal, maka lebih baik makanan diblender.

Pola menghindari stimulus yang tidak nyaman secara terus menerus akan membuat anak “lumpuh” dan kehilangan kesempatan belajar mengendalikan emosinya. Sementara saat usianya bertambah besar, maka stimulus akan semakin kuat dan boleh jadi ada beberapa situasi di mana ia tidak bisa menghindarkan diri. Perasaan tidak berdaya membuatnya merasa gagal dan bila itu berlangsung terus menerus terutama bila diiringi dengan libatan emosi yang sangat kuat maka dapat menimbulkan kecemasan juga phobia pada stimulus-stimulus tertentu.

Bila memanjakan itu membuat ‘lumpuh’, tak berdaya, cemas dan bahkan phobia. Masihkah kita tetap akan memanjakan balita kita?
————–

*notes:
– Untuk ABK (anak-anak berkebutuhan khusus) yang biasanya memang memiliki keterbatasan pada beberapa aspek SI (Sensory Integration), maka pengelolaannya membutuhkan pendekatan lebih khusus.
– Ilustrasi kasus adalah benar terjadi (bukan fiktif) namun identitas dihilangkan. Dan kasus sudah dianalisis dengan prosedur tertentu, sehingga ditemukan bahwa latar belakang masalahnya adalah karena pola asuh.
– Phobia bisa dipengaruhi sebab lain selain pola asuh yang kurang tepat. Seperti pengalaman traumatis atau kondisi bawaan (gangguan emosi berat).

Yeti Widiati

Iklan
Categories: dapat dari luar, Parenting | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: