Perkembangan Sosial-Emosi dan Repost: Kemandirian Anak Usia 4-6 Tahun

Perkembangan Sosial-Emosi dan Kemandirian Anak Usia 4-6 Tahun

Perkembangan sosial adalah proses kemampuan belajar dan tingkah laku yang berhubungan dengan individu untuk hidup sebagai bagian dari kelompoknya. Di dalam perkembangan sosial, anak dituntut untuk memiliki kemampuan yang sesuai dengan tuntutan sosial (kemampuan beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan) di mana mereka berada.

Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam hubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, guru, orang tua maupun saudara-saudaranya. Saat  berhubungan dengan orang lain, terjadi peristiwa-peristiwa yang sangat bermakna dalam kehidupan anak yang dapat membentuk kepribadiannya, dan membentuk  perkembangannya menjadi manusia yang sempurna. Perilaku yang ditunjukkan oleh seorang anak dalam lingkungan sosialnya sangat dipengaruhi oleh kondisi emosinya. Perkembangan emosi seorang anak itu sendiri sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan terdekatnya. Maka, sangatlah bijak apabila kita berusaha menciptakan lingkungan yang kondusif untuk membantu perkembangan emosi anak.

Karakteristik Perkembangan Sosial Anak Prasekolah

– menerima tanggung jawab sesuai usia dan perannya
– enjoy dengan pengalamannya
– menyelesaikan masalah dengan segera
– membuat keputusan dengan resiko konflik yang minimum
– tetap pada pilihannya, sampai menyadari bahwa pilihannya itu salah
– merasa puas dengan kenyataan
– mampu menggunakan pikiran sebagai dasar untuk bertindak
– dapat berkata tidak pada situasi yang mengganggunya
– dapat berkata ya pada situasi yang membantunya
– dapat menunjukkan kemarahan secara tepat
– dapat menunjukkan kasih sayang
– dapat menahan rasa sakit dan frustrasi
– mampu berkompromi
– mampu mengkonsentrasikan energi pada tujuan
– mampu menerima dirinya

Bagaimana menyikapi ananda?
Pada periode ini, anak akan belajar menghadapi emosi ketika maksudnya diterima atau ditolak (learning initiative vs guilt).

Usia 3-6 tahun, merupakan masa bermain untuk anak. Saat ia bermain, secara naluri kadang anak berinisiatif untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Di saat ia berinisiatif inilah, ia akan belajar apakah lingkungan akan menanggapinya dengan baik, atau malah mengabaikan.

Jika sambutan baik yang ia terima, maka anak akan belajar 3 hal, yaitu:

– Mampu berimajinasi, mengembangkan ketrampilan melalui bermain aktif, termasuk berfantasi.
– Mampu bekerjasama bersama teman.
– Mampu menjadi “pemimpin” dalam permainan, seperti ia menjadi “pengikut” permainan.

Sebaliknya, ketika inisiatifnya selalu ditolak, maka anak akan selalu merasa takut, sangat bergantung pada kelompok, dan tidak berani untuk mengembangkan pikirannya.

Demikian yang bisa sampaikan pada kesempatan ini. Semoga bermanfaat dan dapat kita kembangkan lagi dalam diskusi.

Salam hangat,
Juditha Elfaj

Iklan
Categories: dapat dari luar, Parenting | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: