Repost: Perkembangan Psikososial dan Kemandirian Anak Usia 2-4 tahun

Perkembangan Psikososial dan Kemandirian Anak Usia 2-4 tahun
👬

Oleh Chairunnisa Rizkiah

Dalam perkembangan manusia, ketiga aspek motorik, kognitif, dan psikososial saling berkaitan. Seperti yang sudah saya sampaikan di materi perkembangan motorik dan kognitif, penguasaan keterampilan baru membuat anak lebih percaya diri untuk ‘berpetualang’ di lingkungan yang lebih luas dan beragam serta mengembangkan kemandiriannya. Untuk tema perkembangan psikososial anak usia 2-4 tahun, saya ingin membahas beberapa topik, yaitu perkembangan emosi dan keterampilan sosial, bermain, dan kemandirian.

1⃣ Perkembangan emosi dan keterampilan sosial

Seiring perkembangan kemampuan berpikir dan berbahasa, anak mulai mengenali emosi-emosi dasar, yaitu senang, sedih, takut, kaget, marah, dan jijik.  Emosi yang ditunjukkan oleh orang lain lewat ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan kata-kata juga ditangkap oleh anak dan menjadi semacam ‘petunjuk’ untuk bertingkah laku. Contohnya, saat melihat anak lain menangis, ada anak yang mengusap-usap tangan anak itu sambil berkata, “Jangan sedih, jangan nangis.” Anak juga tahu kalau orangtuanya marah karena orangtua bicara dengan suara keras, intonasi (nada suara) tinggi, dan ekspresi wajah cemberut. Atau, setelah pulang liburan anak bercerita ke gurunya, “Aku senang banget kemarin jalan-jalan ke Taman Safari.”

Kemampuan anak untuk mengenali emosinya sendiri dan emosi orang lain merupakan keterampilan sosial. Anak  jadi mengerti apa yang sedang ia rasakan, dan bisa mengerti perasaan orang lain. Tentu masih dengan pemahaman yang sederhana.
Murid-murid saya di usia 3-4 tahun sudah bisa diajak berdiskusi tentang “orang yang tidak punya rumah” dan “orang yang tidak punya makanan”. Jawaban mereka, rasanya ga enak, kan nanti kelaperan, kan kasihan, kalau ga punya rumah sedih ya, kalau punya rumah senang ya karena ga kehujanan. Istilah “empati” yang sering kita dengar kalau membicarakan perkembangan psikososial anak, awalnya dari pengenalan emosi. Empati adalah kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan orang lain, sehingga anak juga memahami sikap seperti apa yang perlu ia tunjukkan.

Jenis-jenis emosi tadi, dibutuhkan oleh anak. Sebagai orangtua tentunya ingin anak selalu senang ya, namun emosi-emosi lain juga punya peran masing-masing. Di usia 1-2 tahun, anak sudah mulai mengenal emosi takut bila bertemu orang asing atau masuk ke lingkungan baru. Kalau ditinggal oleh orangtua atau sosok lain yang dekat dengan anak, anak menunjukkan ekpresi wajah sedih sendu atau menangis. Sebagian anak juga merasa jijik bila memegang benda asing yang lengket atau memakan makanan yang rasanya aneh. Kalau anak ditinggal oleh orangtua atau sosok Emosi jijik ini menjadi alarm bahwa ada sesuatu yang ‘beracun’ atau berbahaya. Maafin ya Bun kalau makanannya dilepeh karena rasanya aneh ^^” *P.S. saya baru nonton film Inside Out. Bagus deh, tentang perkembangan emosi anak*

Ada pula emosi yang lebih kompleks seperti rasa malu, menyesal/merasa bersalah, iri, dan bangga. Emosi-emosi ini disebut self-conscious emotions (emosi sadar-diri). Emosi-emosi ini membuat anak menilai dirinya. Anak mengenal emosi-emosi tersebut dari interaksi dengan orang lain. Anak merasa bangga bila berhasil atau dipuji, menyesal kalau ia tahu sudah menyakiti orang lain, malu kalau gagal atau melakukan kesalahan, dan iri bila melihat orang lain lebih baik. Emosi mana  yang lebih berkembang dalam diri anak, sangat dipengaruhi oleh lingkungannya.

Pemahaman terhadap emosi memungkinkan anak untuk melakukan regulasi (mengatur) emosinya. Mulai usia 2 tahun atau saat anak sudah bisa bicara, anak bercerita tentang perasaannya. Contohnya, “Aku ga suka kalau mama marah-marah.” (Nah loh…) Strategi lain yang diterapkan anak di antaranya berusaha memblokir rangsangan sensori yang masuk, misalnya menutup telinga atau matanya, berbicara sendiri (“gapapa kok, gapapa, kan nanti di rumah ketemu mama lagi”), atau melakukan kegiatan lain yang dapat membuat anak melupakan emosi negatif yang dirasakannya. Untuk belajar mengatur emosi, strategi-strategi tersebut sangat banyak dipelajari anak dari orangtua. Misalnya, kalau orangtua marah-marah sambil memukul meja, sangat mungkin anak menirunya. Sebaliknya, kalau anak mengekspresikan emosi marah dengan memukul atau melempar barang, lalu orangtua mengajarinya (dengan sabar dan konsisten) untuk sabar dan bicara baik-baik, anak juga belajar bahwa ada cara lain selain marah-marah.

2⃣ Bermain
Bermain adalah urusan yang sangat serius bagi anak-anak, hehe…Awalnya anak bermain sendiri (solitary play), lalu mulai bermain sendiri tapi dengan ada anak lain di tempat yang sama (parallel play), kemudian bermain bersama anak lain (collaborative play), baik anak yang sebaya, lebih tua, atau lebih muda. Bermain bersama dapat mengembangkan keterampilan sosial di antaranya kemampuan untuk berbagi, menunggu giliran, menyampaikan keinginan kepada orang lain, dan melakukan percakapan.

Kegiatan bermain, selain untuk stimulasi perkembangan motorik dan kognitif, juga mengenalkan anak pada aturan. Anak usia 3-4 tahun sudah bisa bermain permainan bersama yang memiliki aturan, seperti ular naga (semua anak harus lewat ‘terowongan’), halang-rintang (harus melewati rintangan dengan cara tertentu), bermain pura-pura (siapa berperan jadi siapa, siapa yang bertugas memegang peralatan apa), dan permainan lainnya. Jadi, saat anak bermain dengan orangtua atau kakak yang jauh lebih tua pun, orangtua tidak perlu selalu mengalah ya 😁 Saat anak bermain dengan anak yang lebih kecil pun, anak perlu dibiasakan untuk tidak ‘sewenang-wenang’ mengambil atau merebut barang hanya karena ia lebih besar. Hal ini juga dapat membiasakan anak untuk mengenal fair play dan sikap menghormati orang lain sejak kecil.

Tentang bermain, saya tidak bahas terlalu banyak karena ini sudah jadi makanan sehari-hari grup Rumah Main Anak, hehe. Untuk anak usia 2-4 tahun, anak pada umumnya lebih berminat berinteraksi dengan anak lain, sebab lingkungannya juga sudah bertambah luas (tetangga, sepupu, teman di playgroup atau daycare, dan lain-lain). Bila diperlukan, misalnya kalau anak termasuk anak yang butuh waktu untuk dekat dengan orang baru, permainan yang sifatnya kolaboratif (bersama) dapat diarahkan dulu oleh orang tua. Yang pasti, setiap anak memiliki karakteristik yang unik. Tetap sabar dan dampingi anak untuk merasa nyaman dan yakin bahwa ia baik-baik saja di zona bermain itu.

3⃣Kemandirian
Sebenarnya poin ini juga sudah pernah saya bahas di tema-tema sebelumnya. Kemandirian dibentuk secara bertahap, dan tentunya sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Contohnya, anak usia 2 tahun akan sangat sulit untuk memasang kancing baju sendiri karena keterampilan motorik halusnya belum memadai. Namun menjelang usia 4 tahun, mereka sudah jauh lebih terampil. Mungkin kita juga bisa review lagi tahapan perkembangan motorik dan kognitif anak usia 2-4 tahun ya…
Dalam mendampingi anak untuk membentuk kemandirian, berikut hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Tentukan target dan bagi menjadi langkah-langkah yang lebih kecil. Misalnya memakai dan membuka sepatu sendiri. Awalnya bisa dicoba dengan sepatu yang mudah dibuka (tanpa tali atau Velcro). Tidak lupa, ajari anak untuk meletakkan sepatu dengan rapi di tempat yang tepat (rak sepatu, loker, atau tempat khusus sepatu)
2. Anak diberi contoh (dengan peragaan dan bisa juga dibantu gambar) dan diarahkan secara verbal. Di awal, anak mungkin perlu contoh dan dibantu lebih dari satu kali. Lama-kelamaan, anak bisa dipantau saja dari dekat tapi hanya perlu diingatkan cara melakukannya secara verbal
3. Prioritaskan keterampilan-keterampilan yang dalam waktu dekat sangat diperlukan anak dan akan sering digunakan. Untuk usia 2-4 tahun, contohnya toileting, makan sendiri, dan membawa barang miliknya sendiri (yang tidak terlalu berat). Memakai baju dan sepatu, tahapannya cukup banyak. Di usia 4-5 tahun pun baru benar-benar bisa dilakukan secara mandiri.
4. Hargai setiap usaha anak. Kalau belum berhasil saat ini, tetap semangati anak dan yakinkan bahwa ‘kegagalan’ itu tidak membuat anak jadi ‘jelek’ atau tidak disukai. Saya pernah punya murid yang sempat kesulitan memakai sepatu Velcro, tapi guru-gurunya menyemangati dengan, “Ga apa-apa, kan masih belajar. Kalau belajar terus, nanti bisa.”
5. Beri anak kesempatan untuk mencoba sendiri. Kembali lagi ke poin 2 tadi, diarahkan tapi tidak selalu harus dibantu. Atau anak dibantu sedikit di awal tapi ia sendiri yang menyelesaikan. Dengan demikian, anak juga belajar bahwa ia perlu berusaha dulu, karena sekarang umurnya juga sudah semakin besar dan ia sudah belajar
6. Di akhir kegiatan belajar mandiri, ajak anak untuk me-review tugas yang dilakukannya tadi. Kalau belum berhasil, tidak apa-apa untuk ‘mengakui’nya. “Masih agak susah ya kancingin bajunya? Tapi udah bisa masukin tangan sendiri nih, hebat! Nanti kita coba lagi ya kancingin baju.” Apalagi kalau anak tetap berusaha walaupun tugasnya sulit baginya. Satu lagi, yang pasti siapkan stok sabar yang banyak yang Bun, insya Allah nanti hasilnya sepadan  🙂

Untuk selanjutnya, kita diskusi aja ya. 🙂

Follow us :
Instagram : @rumahmainanak
Fanpage Facebook : Rumah Main Anak
Blog: http://www.rumahmainanak.blogspot.com

Iklan
Categories: dapat dari luar, Parenting | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: