Repost: TANTRUM

Temper Tantrum
Oleh Chairunnisa Rizkiah, S.Psi

Assalamu’alaikum ibu-ibu hebat :mrgreen: Materi kali ini menurut saya ngeri-ngeri sedap. Hihi…Mudah-mudahan kita bisa banyak berbagi pengalaman juga ya.

Temper tantrum, atau yang lebih sering disebut tantrum, merupakan luapan emosi seseorang saat mengalami kondisi yang tidak menyenangkan. Emosi negatif dari stres yang dihadapi itu diluapkan dalam bentuk perilaku seperti berteriak, menangis, ngotot/tidak mau menuruti perintah, hingga memukul atau merusak barang. Tantrum adalah cara anak mengungkapkan rasa frustrasinya, ketika anak menginginkan sesuatu namun tidak keinginannya tidak dituruti, atau ketika anak tidak bisa menyampaikan keinginan, isi pikiran, ataupun perasaannya secara lisan karena keterbatasan kemampuan bahasa anak di usia tersebut. Tantrum juga lebih rentan terjadi bila anak sedang lelah, sakit, atau mengantuk.

Tantrum biasanya terjadi di usia toddler (1 tahun – menjelang 3 tahun).
Usia 2 tahun sering disebut juga dengan istilah “terrible two”, atau umur 2 tahun dimana perilaku anak sedang “parah” dengan mulai munculnya teriakan, tangisan sambil guling-guling di lantai, dan pukulan. Seiring dengan perkembangan bahasa, pada umumnya tantrum semakin berkurang sebab anak semakin mampu menyampaikan keinginannya dengan kata-kata dan bernegosiasi dengan orang lain. Tetapi patokan umur ini tidak menjadi jaminan bahwa tantrum akan secara ajaib tiba-tiba hilang sendiri setelah usia 3 tahun. Namun, cara orangtua menghadapi anak ketika tantrum dapat juga mempengaruhi kemampuan anak untuk mengatur emosinya di kemudian hari. Misalnya, walaupun sudah lewat usia 3 tahun, bila setiap kali tantrum keinginan anak dipenuhi, maka anak akan terbiasa untuk memaksa orang lain menuruti keinginannya dengan tantrum. Bahkan bila tidak dihentikan, sampai anak jauh lebih besar pun ia bisa terus menggunakan tantrum sebagai “senjata” untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Kemampuan untuk mengatur emosi ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan adalah keterampilan yang diperlukan anak untuk dapat melakukan banyak hal di kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu, adalah peran orangtua dan pengasuh di sekitar anak untuk melatih keterampilan anak dalam menghadapi tantrum.

Berikut adalah poin-poin yang perlu diperhatikan dalam menghadapi tantrum anak:
1. Stay cool, stay calm. Tetap tenang dalam menghadapi anak, terutama dalam berbicara. Seingat saya kita sudah pernah membahas hal ini juga di sesi tanya jawab materi perkembangan psikososial dan kemandirian anak. Mudah di teori tapi praktiknya butuh usaha besar ya, hehe…Pemandangan saat anak sedang tantrum memang bisa memicu emosi negatif juga pada orang dewasa. Siapa juga yang suka mendengar teriakan melengking anak, melihat anak menangis berguling-guling, atau bahkan memukul. Bila orangtua merespon dengan emosi marah juga (contoh: berteriak menyuruh anak diam, mencubit, mengancam), dengan emosi sedih dan memelas (misalnya berkata “aduuuh…jangan nangis dong…”, “Ga kasihan sama bunda?”, “Malu nih dilihatin orang”), atau terlihat bingung mau melakukan apa, tantrum bisa makin menjadi-jadi dan berlangsung lebih lama. Saat tantrum, anak sulit untuk berkonsentrasi mendengar perkataan orang lain. Orangtua juga sangat mungkin merasakan emosi negatif juga seperti marah, sedih, bingung, dan takut. Ada baiknya menunggu sebentar hingga tangisan anak agak reda, bisa dengan menunggui di dekat anak atau agak menjauh. Sampaikan kepada anak dengan suara yang tenang, “Bunda tunggu dulu sebentar sampai kamu tenang ya.” Ada pula anak-anak yang akan menjadi lebih tenang bila dipeluk, walaupun saat akan dipeluk mereka mencoba meronta. Orangtua bisa mencoba untuk memeluk sambil tetap mengajak anak bicara, “Yuk, tenang dulu ya, stop dulu nangisnya ya…”

2. Tunjukkan otoritas. Mau tidak mau, anak perlu menyadari bahwa orangtua adalah tokoh yang mempunyai otoritas/wewenang. Ketika semua keinginan anak dituruti bila ia tantrum, anak jadi mendapatkan pemahaman bahwa ialah yang mengontrol orangtua. Dengan kata lain, anak merasa punya otoritas. Untuk sejumlah hal, anak memang dapat diberi otoritas, seperti memilih baju yang akan dipakai untuk jalan-jalan atau memilih mainan di rumah. Untuk tantrum, anak perlu memahami bahwa tidak semua keinginannya dapat dipenuhi.

3. Konsisten. Konsistensi dalam menghadapi perilaku tantrum anak anak membuat anak pelan-pelan menyadari bahwa ada aturan yang berlaku. Anak juga akan memahami bahwa tantrum tidak bisa dijadikan senjata karena tidak mempan pada orangtua. Pada situasi-situasi tertentu seperti saat anak capek atau sakit, tantrum bisa sedikit lebih ditoleransi mengingat kondisi anak yang memang sedang tidak fit.

4. Ajak anak bicara. Setelah tantrum selesai, sediakan waktu untuk mengajak anak bicara tentang apa yang terjadi. Saat itu anak biasanya sudah lebih tenang dan dapat diajak untuk melihat balik ke perilakunya tadi. Tadi apa yang dia inginkan, kenapa anak menangis atau berteriak, bagaimana solusinya. Di saat seperti ini, orangtua bisa lebih mudah untuk mendorong anak untuk bicara bila menginginkan sesuatu, dan tidak perlu menangis atau memukul. Jadi, proses belajar anak tidak selesai hanya sampai tantrumnya selesai ya Bun. Justru setelah kondisi emosi anak kembali stabil lah waktu yang tepat untuk mengajaknya bicara. Orangtua bisa mengajak anak bicara dengan menggunakan alat bantu seperti buku cerita, mengajak anak menggambar kejadian tadi, atau sambil makan cemilan bersama.

5. Antisipasi kemungkinan tantrum. Untuk hal ini, yang paling mengenal anak adalah orangtuanya sendiri. Dalam kondisi apa anak biasanya tantrum? Bila harus makan makanan yang tidak disukai? Bila disuruh berhenti bermain? Bila sedang di supermarket lalu tidak diperbolehkan mengambil barang yang ia inginkan? Dengan mengantisipasinya, anak akan lebih kooperatif dan tantrum berkurang. Misalnya, sebelum anak bermain di mall, beritahu berapa lama waktu bermainnya. Tunjuk di angka berapa jarum jam yang panjang nanti kalau waktu bermain anak habis. Penting, pastikan anak setuju. 5 menit sebelum waktu bermain habis, beri “ancang-ancang” kepada anak. Bila anak sering tiba-tiba menginginkan suatu benda saat berbelanja, sebelum pergi belanja ajak anak untuk bicara, hari itu apa saja yang akan dibeli, dan apa yang boleh dibeli oleh anak. Anak bisa diberi kesempatan untuk memilih satu atau dua makanan yang ia suka (dengan syarat dan ketentuan berlaku sesuai kebijakan orangtua, misalnya bukan permen atau bukan yang terlalu mahal). Anak diberitahu bahwa selain dari makanan yang sudah dipilihnya, orangtua bisa menolak karena tidak ada di daftar belanja. Bila anak sudah diberi kesempatan untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan situasi yang tidak menyenangkan, ia juga jadi punya waktu untuk mengatur emosinya.

Semoga bermanfaat. Ayo diskusi dan berbagi pengalaman 🙂

Referensi:
Papalia, D.E., Olds, S.W., Feldman, R.D. (2009). Human Development. 11th ed. New York: McGraw-Hill
http://www.babycenter.com/0_tantrums_11569.bc
http://kidshealth.org/parent/emotions/behavior/tantrums.html
http://kidshealth.org/parent/emotions/behavior/discipline.html?tracking=P_RelatedArticle#

Iklan
Categories: dapat dari luar, Parenting | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: