Repost: Weaning With Love

Assalamu’alaykum wrb.
 
Selamat pagi ibu-ibu, kali ini saya akan berbagi mengenai weaning with love (menyapih dengan cinta). Tema ini bisa dikatakan tema sentral kegalauan para ibu ketika si kecil akan memasuki usia 2 tahun, selain tema toilet training hehe..
 
WHO dan IDAI memang menganjurkan bahwa kegiatan menyusui sebaiknya dilakukan hingga usia dua tahun. Dalam islam pun, anjuran penyempurnaan penyusuan dikatakan hingga usia 2 tahun. Lantas, bagaimana jika si kecil sudah 2 tahun namun tak nampak tanda2 ia mau berhenti menyusu? Nah, tentunya ada yang bisa kita lakukan untuk membantunya. Meskipun ada yang mengatakan bahwa anak akan menyapih dirinya sendiri, namun peran kita sebagai orang tua agar menyiapkan si kecil untuk siap disapih juga akan sangat membantunya mencapai kesiapan penyapihan (weaning readiness). Nah, Kejelian orang tua mengenali weaning readiness adalah salah satu kunci keberhasilan proses weaning with love (wwl). Oke, kita bahas lebih lanjut ya si wwl ini..
 
❓Apa itu WWL?

WWL sendiri adalah salah satu teknik menyapih dimana proses penyapihan dilakukan secara sangat halus dengan sangat mempertimbangkan kesiapan si kecil. Inti dari WWL adalah proses yang lembut, bertahap, fleksibel, penuh kesabaran dan penghargaan terhadap si kecil. Jadi dalam WWL ini, tidak ada tipu-tipu atau aktivitas pembohongan ke anak, misalnya dengan mengoleskan obat merah ke puting agar anak tidak mau menyusu lagi. Proses WWL sendiri dapat dimulai paling tidak di usia anak 18 bulan karena di usia ini anak sudah mulai bisa diminta untuk menunggu pemenuhan kebutuhannya dibandingkan di usia yang lebih muda.
 
❓Bagaimana melakukan WWL?
Proses WWL dapat menjadi transisi yang sulit bagi si kecil. Selama proses penyapihan, tawarkan banyak pelukan dan ciuman untuk si kecil. Banyak ibu yang sedang menyapih khawatir memeluk atau mencium si kecil akan mendorong anak untuk meminta menyusui. Anak butuh pelukan atau kontak fisik dengan ibu untuk menggantikan kontak fisik yang berkurang karena kurangnya frekuensi menyusu. Buatlah waktu untuk focus pada si kecil, seperti saat sedang menyusuinya. Duduk atau berbaring bersama, lihat dia bicara dengannya, lakukan sesuatu dengannya. Biarkan dia tahu melalui berbagai cara bahwa kita tetap ingin dekat dengannya. Jika si kecil menunjukkan keinginan yang sangat kuat untuk menyusu, jangan ditolak. Namun jika selama proses penyapihan si kecil tidak memperlihatkan keinginan untuk menyusu, jangan ditawari (don’t offer, don’t refuse).
Anak biasanya menyusu karena dua alasan yaitu kebutuhan dan kebiasaan. Menyusu karena kebutuhan biasanya dilakukan ketika si kecil haus. Oleh karena itu, selama proses penyapihan, tawarkan banyak minuman yang menarik agar anak tidak merasa haus. Selain itu, tawarkan banyak makanan yang tinggi protein dan nutrisi untuk mengimbangi kehilangan nutrisi dari ASI. Sementara itu, menyusu karena kebiasaan biasanya dilakukan pada waktu dan tempat tertentu, misalnya di kamar sebelum tidur. Pada kondisi ini, hindari situasi dimana anak terbiasa menyusu, misalnya dengan membuat rutinitas baru seperti membaca buku sebelum tidur. Selain itu, berikan anak banyak kegiatan yang menyenangkan agar pikiran anak teralihkan dari kegiatan menyusu.
Selain itu, biasanya anak menyusu sebagai sarana untuk menyamankan diri, misalnya saat menangis ia minta menyusu, atau saat merasa bosan, ia minta menyusu dsb. Nah, disini tugas kita adalah dengan menyediakan bentuk dukungan emosional melalui berbagai cara, misalnya tepukan halus, elusan dsb agar ia belajar bahwa ada berbagai cara yang membuatnya nyaman selain menyusu.
 
 
❓Apa yang membuat WWL berhasil?
Sebagaimana keberhasilan proses menyusui, keberhasilan proses menyapih pun melibatkan 3 pihak: ibu, anak, dan ayah. Kesiapan penyapihan dari ketiga pihak ini akan sangat membantu berjalannya proses penyapihan yang membahagiakan. Oke kita bahas satu persatu yaa..
👩 Kesiapan ibu
Menyusui bisa dikatakan sebagai kegiatan yang sangat membahagiakan bagi kebanyakan ibu. Oleh karenanya, penyapihan memiliki tantangan yang besar bagi Ibu. Menyapih membutuhkan waktu, kesabaran, energi dan kemampuan untuk mengantisipasi permintaan menyusu dari si kecil. Sebagai contoh, ketika biasanya cara paling ampuh meredakan kerewelan si kecil adalah dengan menyusuinya, maka dalam proses menyapih ibu harus siap dengan cara-cara lain yang membuat anak nyaman selain menyusu. Selain itu, ketidaksiapan ibu juga biasanya muncul karena kekhawatiran bahwa penyapihan akan berefek negatif, misalnya anak menjadi tidak dekat lagi dengan ibu.
👶 Kesiapan anak
Kesiapan penyapihan (weaning readiness) adalah tahapan perkembangan dan beberapa anak bisa mencapainya sebelum anak lain. Jika penyapihan nampak terlalu cepat  untuk si kecil, maka akan sangat baik jika kita memperlambat proses penyapihan atau bahkan memundurkan prosesnya. Jika si kecil nampak sangat kesulitan selama penyapihan, maka bisa jadi saat tersebut bukanlah saat yang tepat untuk penyapihan. Kita bisa menemukan bahwa dengan menunggu agak lebih lama, si kecil akan lebih siap untuk tahapan ini dan seluruh proses akan berjalan lebih mudah.
Berikut adalah tanda-tanda kesiapan anak untuk memulai proses penyapihan:
·         Usia setidaknya satu tahun
·         Anak sudah memakan berbagai macam makanan
·         Anak merasa nyaman dan aman berhubungan dengan ibu
·         Anak mulai menerima berbagai cara yang membuatnya nyaman
·         Anak dapat menerima alasan untuk tidak menyusu pada waktu atau tempat tertentu
·         Anak dapat tertidur atau tidur kembali tanpa menyusu
·         Anak hanya menunjukkan sedikit kecemasan ketika diminta untuk tidak menyusu
👨 Kesiapan ayah
Peran ayah memberikan dukungan yang sangat besar dalam proses penyapihan. Menyusui biasanya menjadi ritual anak sebelum tidur atau saat terbangun di malam hari. Nah, peran ayah berada pada waktu-waktu krusial tersebut, misalnya saat anak akan tidur, ayah yang membacakan buku untuknya atau saat si kecil terjaga di malam hari,ayah yang kembali menidurkannya. Selain itu, ayah juga berperan dalam memberikan penguatan bagi ibu dan anak, misalnya dengan memberikan pujian.
 
Oke itu dia penjelasan mengenai WWL, saya tutup dengan quote ini J semoga bermanfaat!
“While many people see weaning as the end of something – a taking away or a deprivation- it’s really a positive thing, a beginning, a wider experience. It’s a broadening of a child’s horizons, an expansion of his universe. It’s moving ahead slowly one careful step at a time. It’s full of exciting but sometimes frightening new experiences. It’s another step in growing up.”   The Womanly art of Breastfeeding, page 237
 
Sumber:
http://kellymom.com/ages/weaning/considering-weaning/how_weaning_happens/
http://theparentingpassageway.com/2009/02/04/weaning-with-love/

Iklan
Categories: dapat dari luar, Parenting | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: