Catatan

Daurah Ketahanan Keluarga

Dilatarbelakangi keprihatinan munculnya berbagai permasalahan dalam pernikahan kader, Bidang Perempuan DPD PKS Surakarta menyelenggarakan Daurah Ketahanan Keluarga. Dalam sambutannya, Hastati Pamiluwati, S.H., menyampaikan harapannya agar keluarga dakwah mampu mengoptimalkan peran dalam memberi manfaat kepada masyarakat, yang diawali mensolidkan keluarga.

“Sekarang ini kasus dalam rumah tangga sangat banyak. Memprihatinkan jika permasalahan-permasalahan tersebut tidak dikelola dan berujung pada perpisahan. Apa jadinya jika keluarga kader seperti itu?  Tentu agenda dakwah akan terganggu jika internal (keluarga) bermasalah” jelasnya.

Komunikasi for Harmoni

Pembicara pertama daurah ini adalah Bapak Djatmika. Ia memaparkan pentingnya membangun komunikasi interktif antaranggota keluarga, baik antara suami dengan istri maupun dengan anak. Selanjutnya, komunikasi ini penting dalam interaksi keluarga (inti) dengan keluarga besar.

“Yang harus diingat, setiap manusia diciptakan dengan keunikan dan karakteristik masing-masing, sehingga diperlukan pembiasaan untuk bisa saling memahami. Kuncinya adalah komunikasi. Komunikasi akan menciptakan keharmonisan, yaitu hubungan yang mensinergikan perbedaan dan keunikan menjadi sesuatu yang selaras dan menyenangkan” paparnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa komunikasi meliputi komunikasi verbal dan non verbal. Baca lebih lanjut

Iklan
Categories: Catatan | Tinggalkan komentar

Jadikan diri dan keluarga akrab dengan Al-Qur’an

Hari Jumat, 1 Maret 2013 kemarin, 90 kader perempuan DPD PKS Solo berkesempatan bertemu dan mendengarkan taujih dari Bu Wirianingsih. Istri dari Mutammimul ‘Ula ini bukanlah sosok yang asing bagi kalangan internal PKS, mengingat kiprah dakwahnya yang pernah menjadi Ketua Umum PP Salimah (Persaudaraan Muslimah) periode 2005-2009. Di samping itu, prestasi yang tak kalah luar biasa adalah keberhasilannya membimbing kesepuluh putra-putrinya menjadi penghafal Qur’an.

ww

Pada kesempatan itu, Bu Wiwi, demikian Ia akrab disapa, menyampaikan pesan agar muslimah membiasakan diri dan mengkondisikan keluarganya, khususnya anak-anak, agar selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an.” Qur’an itu yasiru fii jasadil ummah. Penggerak di tubuh umat. Ia adalah energi yang membuat kita mampu, bahkan harus selalu bergerak. Al-Qur’an hadirkan ketenangan di hati, dan jika hati kita sehat tentu fisik menjadi sehat, segar, dan kelelahan yang ada tidak lagi kita rasakan” paparnya. “Apalagi kita sebagai ibu, harus dipastikan bahwa penguasaan pertama yang dimiliki anak adalah penguasaan terhadap Al-Qur’an. Untuk itu harus dimulai dari kita, ibunya. Harapannya semangat ini akan terus mengalir, tetap lestari sampai anak cucu kita nanti” imbuhnya.

Bu Wiwi pun membagi pengalamannya beserta putra-putrinya selama mengakrabi Qur’an, Baca lebih lanjut

Categories: Catatan | Tinggalkan komentar

Daurah Muslimah, Bekal menjadi Da’iyah yang Membumi

Bertempat di aula hotel Kusuma Kartikasari, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Surakarta menyelenggarakan daurah muslimah pada hari Ahad, 27 Januari 2012. Acara bertajuk “Berinteraksi dengan Lingkungan tanpa Meninggalkan Identitas” ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Aisyah Dahlan dan Mahmud Mahfudz, Lc dan dihadiri oleh 80 orang peserta.

Dalam pemaparannya, Aisyah Dahlan menekankan para muslimah agar tidak melupakan perannya sebagai da’i yang senantiasa mengajak masyarakat ber-fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) dengan penyampaian yang baik dan mengutamakan memberi teladan dalam setiap kondisi. Beliau menyampaikan beberapa ciri yang harus dimiliki oleh muslimah da’iyah, antara lain memiliki keimanan yang bisa membangkitkan, selalu beribadah yang dengan ibadahnya menjadikannya takut kepada Allah, taat kepada Allah dan memiliki prioritas amal yang baik, ridha terhadap seluruh takdir-Nya, serta senantiasa bekerja sama dalam rangka menegakkan kewajiban. Peran sebagai da’i harus disinkronkan dengan kewajiban muslimah di rumah, baik terhadap suami, anak, maupun kepada orang tua.

Pada sesi berikutnya, Mahmud Mahfudz, Lc yang merupakan sekretaris komisi E DPRD Jawa Tengah menjelaskan tentang rambu-rambu interaksi muslimah. Beliau mencontohkan hal-hal yang dilakukan para muslimah pada masa Rasulullah SAW, seperti shalat jamaah, menghadiri majelis ilmu, berdebat, sampai berbicara tentang politik dan turut berperan di medan perang. Beliau menekankan agar muslimah bisa tampil dengan tetap memperlihatkan jati dirinya, yaitu dengan menahan pandangan, tidak ikhtilat (bercampur baur), serta tidak berlebihan dalam berhias.

Ori Nako selaku selaku penanggung jawab acara menyampaikan tujuan acara ini adalah  agar muslimah termotivasi untuk berkiprah di masyarakat dengan tetap memperhatikan rambu-rambu ketika berinteraksi. “Harapannya peserta dapat mengambil peran di masyarakat serta lebih peka, paham batas-batas, dan dapat kembali kepada kaidah syar’i ketika dalam praktiknya ditemui beberapa benturan”, tambahnya.

****
Berita ini dimuat di
http://pks-solo.or.id/berita/kiprah-dpd/117-daurah-muslimah-pks-surakarta-menjadi-daiyah-yang-membumi.html

Categories: Catatan | Tinggalkan komentar

Menilik Perekonomian pada Masa Rasulullah

Rasulullah SAW diberi amanah untuk mengemban dakwah Islam pada usia 40 tahun. Pada masa kepemimpinan beliau, tidak ada tentara formal. Semua muslim yang mampu boleh menjadi tentara. Mereka tidak mendapatkan gaji tetap, tetapi diperbolehkan mendapatkan bagan dari harta rampasan perang, yang meliputi senjata, kuda, unta, domba, dan barang bergerak lain yang didapatkan dari perang. Situasi berubah setelah turun surat Al Anfal ayat 41 : “Ketahuilah sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yaim, orang-orang miskin dan ibnu sabl, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Rasulullah SAW biasanya membagi seperlima (khums) dari rampasan perang tersebut menjadi tiga bagian, bagian pertama untuk beliau dan keluarganya, kedua untuk kerabatnya, dan bagian ketiga untuk anak yatim, orang-orang yang membutuhkan, dan ibnu sabil. Empat per lima bagian yang lain dibagi di antara prajurit yang kut perang, dan dalam kasus tertentu beberapa yang tidak ikut berperang pun mendapat bagian. Penunggang kuda mendapat dua bagian, untuk dirinya dan kudanya.

Pada masa itu, beliau mengadopsi praktik yang lebih manusiawi terhadap tanah pertanian yang ditaklukkan, yaitu sebagai fay  atau tanah dengan kepemilikan umum. Tanah tersebut dibiarkan dimiliki oleh pemiliknya dan penanamnya, sangat berbeda dari praktik kekaisaran Romawi dan Persia yang memisahkan tanah ini dari pemiliknya dan membagikannya kepada elit militer dan prajurit. Sedang tanah yang dihadiahkan kepada Rasulullah (iqta’) adalah tanah yang tidak bertuan dan relative kecil jumlahnya. Kebijakan ini tidak hanya membantu mempertahankan kesinambungan kehidupan administrasi dan ekonomi tanah-tanah yang dikuasai, melainkan juga mendorong keadilan antargenerasi dan mewujudkan sikap egaliter.

Pada tahun kedua setelah hijrah, diberlakukan bentuk shodaqoh yang kemudian dikenal dengan Zakat Fitrah, yang dibayarkan sekali setahun pada bulan Ramadhan. Besarnya satu shakurma, gandum, tepung keju, atau kismis untuk setiap muslim, dibayarkan sebelum shalat Idul Fitri. Kemudian ditetapkan pula zakat untuk kekayaan yang sudah tertentu nisab dan besarnya, tetapi belum ditemukan dalil yang pasti kapan penegasan diwajibkannya. Ada yang berpendapat mulai tahun ke-9 hijrah (Ibnu Asir) dan ada pula yang menyatakan diwajibkan sejak sebelum tahun ke-5 hijrah (Hafiz Ibnu Hajar).

Sumber Pendapatan Primer

Baca lebih lanjut

Categories: Catatan | Tinggalkan komentar

Konvensional vs Syariah

Mungkin bisa jadi referensi & pertimbangan dlm b’investasi.

 

>> Perbedaan Bank Konvensional dg Bank Syariah

Bank Konvensional:

1. Investasi yg dilakukn halal & haram

2. Mmakai perangkat bunga

3. Profit oriented

4. Hubungan dg nasabah adl hubungan debitur-kreditur

5. Tdk terdapat dewan pengawas syariah

 

Bank Syariah:

1. Melakukan investasi-investasi yg halal

2. B’dasarkan prinsip bagi hasil, jual beli atw sewa

3. Profit dn falah oriented

4. Hubungan dg nasabah dlm bentuk hubungan kemitraan (musyarakah / murabahah),

penjual- pembeli (murabahah, salaam, dan istishna), sewa menyewa (ijarah), dn debitur-kreditur (qard)

5. Penghimpunan dn penyaluran dana hrs sesuai dg fatwa DPS

 

 

>>> Perbedaan antara sistem bunga dg sistem bagi hasil

Sistem bunga:

1. Asumsi selalu untung

2. Didasarkan pd jumlah uang (pokok) pinjaman

3. Nasabah kredit hrs tunduk pada pemberlakuan perubahan tingkat suku bunga ttt scara sepihak oleh bank, sesuai dengan fluktuasi tingkat suku bunga di pasar uang.

Pembayaran bunga yang sewaktu-waktu dapat meningkat atau menurun tidak dpt dihindari oleh nasabah dalam masa pembayaran angsuran kreditnya

4. Tidak t’gantung pada kinerja usaha.

Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat meskipun jumlah keuntungan berlipat ganda saat keadaan ekonomi sedang baik

5. Eksistensi bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama, termasuk Islam

6. Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung / rugi.

 

Sistem bagi-hasil:

1. Ada kemungkinan untung / rugi

2. Didasarkan pada rasio bagi hasil dari pendapatan / keuntungan yang diperolah nasabah pembiayaan

3. Margin keutungan untuk bank (yang disepakati bersama) yang ditambahkan pada pokok pembiayaan berlaku sebagai harga jual yang tetap sama hingga berakhirnya masa akad.

Porsi pembagian bagi hasil berdasarkan nisbah (yang disepakati bersama), berlaku tetap sama, sesuai akad, hingga berakhirnya masa perjanjian pembiayaan (untukembiayaan konsumtif)

4. Jumlah pembagian bagi hasil berubah-ubah tergantung kinerja usaha (untuk pembiayaan berdasarkan bagi hasil)

5. Tidak ada agama yang meragukan keabsahan bagi hasil

6. Bagi hasil t’gantung pd keuntungan proyek yg dijalankan.

Jika proyek itu tidak mendapatkan keuntungan, maka lerugian akan ditanggung bersama kedua pihak.

 

Wallahu a’lam bishowab

 

-disarikan dari berbagai sumber-

**Contoh kasus:

Misal pny deposito 10 jt, jngka wkt 1 bln.
Di bank syariah:
Nisbah bagi hasilny deposan:bank = 57:43.
…Katakan keuntungan yg dperoleh utk deposito dlm 1 bln adl 30 jt n rata2 saldo deposito jangka wkt 1 bln adl 950 jt.
Bagi hasilny = (10 jt / 950 jt) x 30 jt x 57% = 180.000.

Kalo d bank konvens, msl tingkt bungany 20%, bunga yg didapat = 10juta x (31 / 365 hr) x 20% = 169.863.

Categories: Catatan | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.