Hamasah!

jejak

Menapaki langkah-langkah berduri

Menyusuri rawa lembah dan hutan

Berjalan di antara tepi jurang

Semua dilalui demi perjuangan

 

Letih tubuh di dalam perjalanan

Saat hujan dan badai merasuk di badan

Namun jiwa harus bertahan

Karena perjalanan masih panjang…

 

Kami adalah tentara Allah

Baca lebih lanjut

Iklan
Categories: Hamasah! | Tinggalkan komentar

Inspirasi Ketegaran

Hari itu, seperti pekan-pekan sebelumnya, sy dan teman-teman mendatangi ta’lim rutin kami. Kala itu, mentor kami menyampaikan kisah teladan yang bagi sy sungguh berkesan.

Adalah Fathimah Sobir, yang setelah suaminya ditangkap mulai mendidik anak-anaknya untuk menapaki jalan yang sama dengan jalan penyebab suaminya dipenjara. Beliau berusaha menghapus air mata perpisahan dan melukis senyum optimis di wajahnya untuk menghadapi kesedihan sebab mereka terpisahkan oleh dinding besi. Beliau pula yang menebarkan asa dan sokongan kepada suaminya untuk tetap komitmen di jalan-Nya, seakan-akan beliaulah yang menjadi penyebab suaminya menghadapi kesulitan hidup.

Demikian halnya dengan Hj. Lathifah Showi, istri Imam Hasan Al Banna, yang tetap pada komitmennya: mendukung penuh gerak suaminya, bahkan merelakan perabot rumahnya diboyong untuk kelengkapan secretariat organisasi. Tak kenal lelah mengobarkan semangat juang pada putra putrinya agar mengikuti jejak sang ayah.

Sosok lain adalah Na’imah Khatab, istri dari Hasan Al Hudaibi, yang menjadikan kisah Ibrahim a.s. sebagai penguat ketika harus melepas suaminya saat ditangkap musuh. Beliau pun menginfakkan harta demi perjuangan, dan tidak bersedia menikmati fasilitas selaku istri pejabat pada masa itu. Begitu pun ketika anak-anaknya ikut ditangkap, dilepasnya dengan senyum keikhlasan.

Aminah Quthb, mujahidah lain yang membuat sy terhenyak, yang merupakan istri dari Kamal Sananiri dan saudari As-Syahid Sayyid Quthb. Beliau dipinang suaminya yang dijatuhi hukuman 25 tahun kurungan. Baca lebih lanjut

Categories: Hamasah! | Tinggalkan komentar

jangan siakan waktu

Murni pesan untuk diri sendiri, yang makin hari sy rasakan tidak produktif.

Dengan potensi 100%, bisa jadi sehar-hari hanya kurang dari 50% yang tergunakan. Ke mana yang lain?

Categories: Hamasah! | Tinggalkan komentar

Delapan Mata Air Kecemerlangan-Anis Matta *repost*

Resensi buku Delapan Mata Air Kecemerlangan (Anis Matta), Semoga bermanfaat.

 

 

Islam datang dengan 2 pesona: pesona kebenaran yang abadi dan pesona manusia muslim yang temporal. Dan pada setiap momentum sejarah di mana kedua pesona itu bertemu, Islam selalu berada di puncak kekuatan dan kejayannya. Akan tetapi, itulah masalah Islam saat ini. Ia memang tidak akan pernah kehilangan pesona kebenarannya, karena kebenarannya bersifat abadi. Namun, ia kini masih kehilangan pesona manusianya. Untuk menjadikan muslim sebagai pesona Islam, maka kita harus mempertemukan manusia-manusia muslim itu dengan mata air kecemerlangannya.

 

Mata Air Pertama: Konsep Diri

 

Konsep diri adalah suatu kesadaran pribadi yang utuh, kuat, jelas, dan mendalam tentang visi dan misi hidup, pilihan jalan hidup beserta prinsip dan nilai yang membentuknya, peta potensi, kapasitas dan kompetensi diri, peran yang menjadi wilayah aktualisasi dan kontribusi, serta rencana amal dan karya unggulan. Konsep diri menciptakan perasaan terarah dalam struktur kesadaran pribadi kita. Keterarahan adalah salah satu mata air kecemerlangan.

 

Konsep Diri manusia Muslim adalah kesadaran yang mempertemukan antara kehendak-kehendaknya sebagai manusia, antara model manusia Muslim yang ideal dan universal dengan kapasitas dirinya yang nyata dan unik, antara nilai-nilai Islam yang komprehensif dan integral dengan keunikan-keunikan pribadinya sebagai individu, antara ruang aksi dan kreasi yang disediakan Islam dengan kemampuan pribadinya untuk beraksi dan berkreasi, dan antara idealisme Islam dengan realitas pribadinya.

 

 

Mata Air Kedua: Cahaya Pikiran

 

Perubahan, perbaikan, dan pengembangan kepribadian harus selalu dimulai dari pikiran kita. Sebab tindakan, perilaku, sikap, dan kebiasaan kita sesungguhnya ditentukan oleh pikiran-pikiran yang memenuhi benak kita. Bukan hanya itu, semua emosi atau perasaan yang kita rasakan dalam jiwa kita seperti kegembiraan dan kesedihan, kemarahan dan ketenangan, juga ditentukan oleh pikiran-pikiran kita. Kita adalah apa yang kita pikirkan.

 

Maka, kekuatan kepribadian kita akan terbangun saat kita mulai memikirkan pikiran-pikiran kita sendiri, memikirkan cara kita berpikir, memikirkan kemampuan berpikir kita, dan memikirkan bagaimana seharusnya kita berpikir. Benih dari setiap karya-karya besar yang kita saksikan dalam sejarah, selalu terlahir pertama kali di sana, di alam pikiran kita. Itulah ruang pertama dari semua kenyataan hidup yang telah kita saksikan.

 

 

Mata Air Ketiga: Kekuatan Tekad

 

Tekad adalah jembatan di mana pikiran-pikiran masuk dalam wilayah fisik dan menjelma menjadi tindakan. Tekad adalah energi jiwa yang memberikan kekuatan kepada pikiran untuk merubahnya menjadi tindakan.

 

Pikiran tidak akan pernah berujung dengan tindakan, jika ia tidak turun dalam wilayah hati, dan berubah menjadi keyakinan dan kemauan, serta kemudian membulat menjadi tekad. Begitu ia menjelma jadi tekad, maka ia memperoleh energi yang akan menstimulus dan menggerakkan tubuh untuk melakukan perintah-perintah pikiran.

 

Bila tekad itu kuat dan membaja, maka tubuh tidak dapat, atau tidak sanggup menolak perintah-perintah pikiran tersebut. Akan tetapi, bila tekad itu tidak terlalu kuat, maka daya rangsang dan geraknya terhadap tubuh tidak akan terlalu kuat, sehingga perintah-perintah pikiran itu tidak terlalu berwibawa bagi tubuh kita.

 

Maka, kekuatan dan kelemahan kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh sebesar apa tekadnya, yang merupakan energi jiwa dalam dirinya. Tekad yang membaja akan meloloskan setiap pikiran di sleuruh prosedur kejiwaan, dan segera merubahnya menjadi tindakan.

 

 

Mata Air Keempat: Keluhuran Sifat

 

Pada akhirnya semua kekuatan internal –kosep diri, pikiran dan tekad- yang telah kita bangun dalam diri kita, haruslah bermuara pada munculnya sifat-sifat keluhuran. Kecemerlangan seseorang di dalam hidup sesungguhnya berasal, salah satunya dari mata air keluhuran budi pekertinya. Dari mata air keluhuran itu, semua nilai-nilai kemanusiaan yang mulia terjalin menjadi satu kesatuan, dan menampakkan diri dalam bentuk sifat-sifat terpuji.

 

Sifat-sifat itulah yang akan tampak di permukaan kepribadian kita, mewakili keseluruhan pesona kekuatan kepribadian yang kita miliki, yang sebagiannya terpendam di kedalaman dasar kepribadian kita. Kekuatan pesona sifat-sifat keluhuran itu seperti sihir, yang akan menaklukkan akal dan hati orang-orang yang ada di sekitarnya, atau yang bersentuhan dengannya secara langsung.

 

Setiap sifat memiliki akar tersendiri yang terhunjam dalam di kedalaman pikiran dan emosi kita. Seperti juga pohon, sifat-sifat itu tersusun sedemikian rupa di mana sebagian mereka melahirkan sebagian yang lain. Ada sejumlah sifat-sifat tertentu yang berfungsi seperti akar pada pohon, yang kemudian tumbuh berkembang menjadi batang, dahan dan ranting, daun dan buah. Demikianlah kita tahu bahwa semua sifat keluhuran berakar pada lima sifat: cinta kebenaran, kesabaran, kasih sayang, kedermawanan, dan keberanian.

 

 

Mata Air Kelima: Manajemen Aset Fundamental

 

Obsesi-obsesi besar, pikiran-pikiran besar, dan kemauan-kemauan besar selalu membutuhkan daya dukung yang juga sarana besarnya. Salah satunya dalam bentuk pengelolaan dua aset fundamental secara baik, yaitu kesehatan dan waktu.

 

Fisik adalah kendaraan jiwa dan pikiran. Perintah-perintah pikiran dan kehendak-kehendak jiwa tidak akan terlaksana dengan baik, bila fisik tidak berada dalam kondisi kesehatan yang prima. Kadang-kadang, jumlah “penumpang” yang mengendarai fisik kita melebihi kapasitasnya dan membuatnya jadi oleng. Akan tetapi, perawatan yang baik akan menciptakan keseimbangan yang rasional antara muatan dan kapasitas kendaraan.

 

Waktu adalah kehidupan. Setiap manusia diberikan kehidupan sebagai batas masa kerja dalam jumlah yang berbeda-beda, yang kemudian kita sebut dengan umur yang terbentang dari kelahiran hingga kematian. Tidak ada manusia yang mengetahui akhir dari batas masa kerja itu, yang kemudian kita sebut ajal. Hal itu menciptakan suasana ketidakpastian, tetapi itulah aset paling berharga yang kita miliki.

 

Ibarat menempuh sebuah perjalanan yang panjang, fisik kita berfungsi sebagai kereta, dan waktu yang terbentang jauh atau dekat, seperti rel kereta. Seorang masinis boleh menentukan stasiun terakhir yang kita tuju, tetapi dia harus menjamin bahwa kereta yang dikemudikannya dan rel yang akan dilewatinya benar-benar berada dalam keadaan baik.

 

Kesehatan dan waktu adalah dua perangkat keras kehidupan yang sangat terbatas. Akan tetapi, manusia-manusia cemerlang selalu dapat meraih sesuatu secara maksimal dari semua keterbatasan yang melingkupinya.

 

 

Mata Air Keenam: Integrasi Sosial

 

Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan masyarakat di mana kita berada bukan saja merupakan ukuran kematangan pribadi seseorang, tetapi lebih dari itu. Sebab, lingkungan sosial kita harus dipandang sebagai wadah kita untuk menyemai semua kebaikan yang telah kita kembangkan dalam diri.

 

Dengan cara pandang ini, maka setiap diri kita akan membangun hubungan sosialnya dengan semangat partisipasi: menyebarkan bunga-bunga kebaikan di taman kehidupan masyarakat kita.

 

Dengan semangat ini, maka semua usaha kita untuk menciptakan keharmonisan sosial menjadi niscaya. Bukan saja karena dengannya kita dapat menyebarkan kebaikan yang tersimpan dalam diri kita, tetapi juga karena kita menciptakan landasan yang kokoh untuk meraih kesuksesan, berkah kehidupan, dan kebahagiaan dalam hidup.

 

Jika kematangan pribadi merupakan landasan bagi kesuksesan sosial, maka kesuksesan sosial merupakan landasan bagi kesuksesan lain dalam hidup, seperti kesuksesan profesi.

 

 

Mata Air Ketujuh: Kontribusi

 

Kehadiran sosial kita tidak boleh berhenti pada tahap partisipasi. Harus ada langkah yang lebih jauh dari sekadar itu. Harus ada karya besar yang kita kontribusikan kepada masyarakat, yang berguna bagi kehidupan mereka; sesuatu yang akan dicatat sebagai jejak sejarah kita, dan sebagai amal unggulan yang membuat kita cukup layak mendapatkan ridha Allah SAW dan sebuah tempat terhormat dalam surga-Nya.

 

Kontribusi itu dapat kita berikan pada wilayah pemikiran, atau wilayah profesionalisme, atau wilayah kepemimpinan, atau wilayah finansial, atau wilayah lainnya. Namun, kontribusi apa pun yang hendak kita berikan, sebaiknya memenuhi dua syarat: memenuhi kebutuhan masyarakat kita dan dibangun dari kompetensi inti kita. Masyarakat adalah pengguna karya-karya kita, maka yang terbaik yang kita berikan kepada mereka adalah apa yang paling mereka butuhkan, dan apa yang tidak dapat dipenuhi oleh orang lain. Akan tetapi, kita tidak dapat berkarya secara maksimal di luar dari kompetensi inti kita. Karena itu, kita harus mencari titik temu diantara keudanya.

 

Caranya adalah sebagai berikut: buatlah peta kebutuhan kondisional masyarakat kita, dan kemudian buatlah peta potensi kita, untuk menemukan kompetensi inti diri kita. Apabila titik temu itu telah kita temukan, maka masih ada satu lagi yang harus kita lakukan; menjemput momentum sejarah untuk meledakkan potensi kita menjadi karya-karya besar yang monumental. Ini semua mengharuskan kita memiliki kesadaran yang mendalam akan tugas sejarah kita sebagai pribadi, sekaligus firasat yang tajam tentang momentum-momentum sejarah kita.

 

 

Mata Air Kedelapan: Konsistensi

 

Sebagai manusia beriman, kita meyakini sebuah prinsip, bahwa bagian yang paling menentukan dari seseorang adalah akhir hidupnya. Maka, persoalan paling berat yang kita hadapi sesungguhnya bukanlah mendaki gunung, tetapi bagaimana bertahan di puncak gunung itu hingga akhir hayat.

 

Mengukir sebuah prestasi besar dalam hidup dan mempertahankannya hingga akhir hayat, adalah dua misi dan tugas hidup yang berbeda; berbeda pada kapasitas energi jiwa yang diperlukannya, berbeda pada proses-proses psikologisnya, berbeda pula pada ukuran kesuksesannya.

 

Untuk dapat bertahan di puncak, kita harus menghindari jebakan-jebakan kesuksesan, seperti rasa puas yang berlebihan atau perasaan menjadi besar dengan kesuksesan yang telah kita raih. Kita harus mempertahankan obsesi pada kesempurnaan pribadi, melakukan perbaikan berkesinambungan, melakukan perbaikan berkesinambungan, melakukan pertumbuhan tanpa batas akhir, dan mempertahankan semangat kerja dengan menghadirkan kerinduan abadi kepada surga dan kecemasan abadi dari neraka, serta menyempurnakan semua usaha-usaha manusiawi kita dengan berdoa kepada Allah untuk mendapatkan husnul khatimah. Semua itu agar kita menjemput takdir sejarah kita yang terhormat di bawah naungan ridha Allah SWT, dan agar kita kelak menceritakan episode panjang kepahlawanan ini kepada saudara-saudara kita di surga.

 

Categories: dapat dari luar, Hamasah! | Tinggalkan komentar

.k.i.t.a.

Katakanlah, “Inilah jalanku, aku mengajak kalian kepada Allah dengan bashiroh, aku dan pengikut-pengikutku – mahasuci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik”.

Jalan dakwah panjang terbentang jauh ke depan. Duri dan batu terjal selalu mengganjal, lurah dan bukit menghadang. Ujungnya bukan di usia, bukan pula di dunia. Tetapi Cahaya Maha Cahaya, Syurga dan Ridha Allah.Cinta adalah sumbernya, hati dan jiwa adalah rumahnyaPergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan RabbmuNikmati perjalannya, berdiskusilah dengan bahasa bijaksana. Dan jika seseorang mendapat hidayah karenamu, itu lebih baik dari dunia dan segala isinya…

Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu.

 

Jika engkau cinta maka dakwah adalah faham.

Mengerti tentang Islam, Risalah Anbiya dan warisan ulama. Hendaknya engkau fanatis dan bangga dengannyaSeperti Mughirah bin Syu’bah di hadapan Rustum Panglima Kisra

 

Jika engkau cinta maka dakwah adalah ikhlas.

Menghiasi hati, memotivasi jiwa untuk berkarya. Seperti Kata Abul Anbiya, “Sesungguhnya sholatku ibadahku, hidupku dan matiku semata bagi Rabb semesta”Berikan hatimu untuk Dia, katakan “Allahu ghayatuna”.

 

Jika engkau cinta maka dakwah adalah amal.

Membangun kejayaan ummat kapan saja dimana saja beradayang bernilai adalah kerja bukan semata ilmu apalagi lamunan. Sasarannya adalah perbaikan dan perubahan, al ishlah wa taghyir. Dari diri pribadi, keluarga, masyarakat hingga negara. Bangun aktifitas secara tertib tuk mencapai kejayaan

 

Jika engkau cinta maka dakwah adalah jihad.

Sungguh-sungguh di medan perjuangan melawan kebatilan, tinggikan kalimat Allah, rendahkan ocehan syaitan durjana. Kerjakeras tak kenal lelah adalah rumusnya,tinggalkan kemalasan, lamban, dan berpangku tangan.

 

Jika engkau cinta maka dakwah adalah taat.

Kepada Allah dan Rasul, Alqur-an dan Sunnahnyaserta orang-orang bertaqwa yang tertata. Taat adalah wujud syukurmu kepada hidayah Allah, karenanya nikmat akan bertambah melimpah penuh berkah.

 

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tadhhiyah.

Bukti kesetiaan dan kesiapan memberi, pantang memintaBersedialah banyak kehilangan dengan sedikit menerima. Karena yang disisi Allah lebih mulia, sedang di sisimu fana belaka. Sedangkan tiap tetes keringat berpahala lipat ganda.

 

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsabat.

Hati dan jiwa yang tegar walau banyak rintangan. Buah dari sabar meniti jalan, teguh dalam barisan, istiqomah dalam perjuangan dengan kaki tak tergoyahkan. Berjalan lempang jauh dari penyimpangan.

 

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tajarrud.

Ikhlas di setiap langkah menggapai satu tujuan. Padukan seluruh potensimu libatkan dalam jalan ini, Engkau da’i sebelum apapun adanya engkau. Dakwah tugas utamamu sedang lainnya hanya selingan.

 

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsiqoh.

Kepercayaan yang dilandasi iman suci penuh keyakinan. Kepada Allah, Rasul, Islam, Qiyadah dan Junudnya. Hilangkan keraguan dan pastikan kejujurannya…Karena inilah kafilah kebenaran yang penuh berkah.

 

Jika engkau cinta maka dakwah adalah ukhuwwah.

Lekatnya ikatan hati berjalin dalam nilai-nilai persaudaraan. Bersaudaralah dengan muslimin sedunia, utamanya mukmin mujahidin. Lapang dada merupakan syarat terendahnya, itsar bentuk tertingginya. Dan Allah yang mengetahui menghimpun hati-hati para da’i dalam cinta-Nya, berjumpa karena taat kepada-Ny. aMelebur satu dalam dakwah ke jalan Allah, saling berjanji untuk menolong syariat-Nya.

 

-taken from ust Aus Hidayat Nur-

 

***Di mana pun, kapan pun, semoga selalu dalam lindungan Allah dan terjaga dalam aktivitas kebaikan***

Categories: dapat dari luar, Hamasah! | Tinggalkan komentar

Karena Kita Bergerak Dengan Nurani

Tulisan (alm) ust.Rahmat Abdullah.,.

-KEMATIAN HATI-

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.

Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.

Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.

Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang Allah berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan Allah atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya Allah, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata.
Dimana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut.

Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya?

Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada Allah, dimana kau kubur dia ?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan. Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh” Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu.

Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat”?

Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan ” Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?”
Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?
Sekarang kau telah jadi kader hebat.
Tidak lagi malu-malu tampil.

Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa.

Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, Allah waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua” Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir ? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka.
Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “westernnya” . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”.
Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri.
Mahatma Ghandi memimpin perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana.

Kini datang “pemimpin” ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil, rumah mewah, “toko emas berjalan” dan segudang asesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang engkau ikut mabuk disana. “Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku”

Categories: dapat dari luar, Hamasah! | Tinggalkan komentar

Mari Ingat Kembali

10 Wasiat Imam Hasan Al Banna:

1. Bangunlah segera untuk melakukan sholat apabila mendengara adzan walau bagaimana pun keadaannya.

2. Baca, Telaah dan dengarkan Al-Quran atau dzikirlah kepada Allah dan janganlah engkau menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada manfaatnya.

3. Bersungguh-sungguhlah untuk bisa berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih.

4. Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang pembicaraan sebab hal ini semata-mata tidak akan mendatangkan kebaikan.

5. Jangan banyak tertawa sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (dzikir) adalah tenang dan tentram.

6. Jangan bergurau karena umat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh-sungguh terus-menerus.

7. Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal ini akan mengganggu dan menyakiti.

8. Jauhilah dari membicarakan kejelekan orang lain atau melukainya dalam bentuk apapun dan jangan berbicara kecuali yang baik.

9. Berta’aruflah dengan saudaramu yang kalian temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan ta’awun (kerja sama).

10. Pekerjaan rumah kita sebenarnya lebih bertumpuk dari pada waktu yang tersedia, maka manfaatkanlah waktu dan apabila kalian mempunyai sesuatu keperluan maka sederhanakanlah dan percepatlah untuk diselesaikan.

————–
————–
Semoga kita menjadi orang yg beruntung karena saling “nasehat-menasehati agar menaati kebenaran dan nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran”

Categories: dapat dari luar, Hamasah! | Tinggalkan komentar

Cukuplah Kematian sabagai Nasihat

“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)

Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.

Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan.

1. Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga
Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.

Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).”

Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.

Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”

2. Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa
Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.

Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir.

Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.

Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.

3. Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa
Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu.

Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang.

Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.

Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.

4. Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara
Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini.

Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.

5. Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga
Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.

Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah Al-Qashash ayat 77,
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…” dengan menyebut, “Ad-Dun-ya mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat)

Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan.

-saksi.online-

Categories: dapat dari luar, Hamasah! | Tinggalkan komentar

Gentayangn di Dumay malem2 ???

Teruntuk Saudariku para Facebookers…

Dear my Sisters Muslimah Sholehah…

Beberapa hari ini saya sengaja log-in di FB malam (lewat HP tua saya, jadi tidak akan terlihat OL. Hehe…), hanya ingin sekedar melihat-lihat.

Ternyata saya mendapati beberapa akhwat/ muslimah posting dan bahkan ada yang saling comment dengan lawan jenis, di atas pukul 20.00 WIB (Weeew….).

Untuk akhwat yang di Solo – khususnya kampus – sudah tidak asing lagi dengan jam malam pukul 20.00, dimana, alangkah AHSANnya alias alangkah BAIKnya ketika kita para muslimah tidak keluar kos dan tidak berkomunikasi dengan ikhwan/ laki-laki di atas jam itu (kecuali syar’i dan darurot mbakyu…).

Ketika kita bisa mengaplikasikannya di dunia nyata

– misalnya: sampe dibela-belain masak mi instant aja dari pada keluar cari makan, atau dibela-belain nggak bales sms ikhwan padahal lagi seru-serunya debat…(Lhoo…?!!! Nggak keren. Debat kok lewat sms) Misalnya aja lho ya…. –

kenapa tidak bisa juga kita aplikasikan di dunia maya (dumay)…?

***

Mungkin ada yang ber-apologi, “saya kan tidak di lingkungan kampus….”
Oke, sekarang kita KELUAR dari konteks ke-KAMPUSan dan aturan JAM MALAM.

Tidak perlu dua hal itu (kampus dan jam malam) untuk menahan kita gentayangan di dumay malam-malam.
Cukup ini saja,
“Bukankah seorang muslimah mempunyai izzah (harga diri)? “

Izzah yang harus dijaga untuk menjaga kehormatan agamanya.
Izzah yang harus dijaga dalam rangka menghindari fitnah.

Kalo kita gentayangan di dumay malam-malam, apakah tidak sama seperti kita gentayangan di dunyat malam-malam juga? (halah…opo kuwi…? Maksud saya dunia nyata)

Kalo kita ngobrol sama lawan jenis di dumay malam2, sama aja dong kita keluar malam, janjian sama dia, ngobrol sambil nongkrong di angkringan (kenapa sih harus angkringan…?!! Suka-suka saya aja ;p)

Kalo kita posting sesuatu di dumay malam2, sama aja dong kita teriak-teriak (nggak usah teriak-teriak deh, tapi ngomong sendiri) di pinggir jalan malam2 nunggu orang lewat berkomentar… (ya ndak?)

Nah….sama aja kan….?!!!

sebenarnya tidak apa2 dilakukan…ketika memang ada uzur syar’i…
cumaaan sejauh ini, mbok saya lihat dari sisi mana juga, tidak ada uzur syar’inya sama sekali.

apakah jika kita tidak comment atau update status saat itu juga akan ada sebuah kemadharatan? apakah akan ada yang cidera karena itu? apakah akan ada yang meninggal? apakah akan menyebabkan perang dunia?

sepertinya…. TIDAK.
kalo bisa ditunda besok paginya, kenapa tidak? ya ndak… ^^

Oleh karenanya muslimah sholehah…
Kalo kita ingin orang lain menghargai kita, maka hargai lah diri kita.
Bagaimana mas X atau akh Z nggak telp kita malam2, lha wong mereka sering mendapati kita sering gentayangan di Dumay malam hari… Ya… wajar…

Orang akan menghargai kita, sebagaimana kita mengharagai diri kita sendiri.
Kalo kita tersinggung dengan sikap orang lain yang kita anggap tidak menghargai dan menghormati kita (telp dan sms nggak penting ke kita malam2, misalnya), balik tanya dulu deh..ke diri kita..sudah sejauh mana kita menghargai diri sendiri…

Saudariku…

Kesimpulannya adalah:
mari saling mengingatkan dan jangan tidur ba’da subuh (lho…?!)

Nyambung-nggak nyambung… yang penting nyambung… (hihihi…. ^^)

Tadzkiroh ini saya persembahkan untuk diri saya sendiri dan saudari-saudari saya yang saya sayangi karena Alloh SWT, insya Alloh…

NB:
karena kapasitas untuk tag-in teman yang lain terbatas,
mohon setelah ini efek bola salju ya…. (jika sepakat dengan saya ^^ jika tidak ya…tidak apa-apa…)
jazakillahkhair…

-tulisan seorang ukhti, Tutut Wuladari-

Categories: dapat dari luar, Hamasah! | Tinggalkan komentar

Mencari Energi yang Hilang dalam Dakwah

Inilah jalan kami untukmu kader dakwah pada awalnya….

“maka, jika antum memutuskan untuk menjadi aktivis dakwah, bersiaplah menghadapi banyak tantangan, karena menjadi aktivis dakwah berarti terlibat dalam suatu proses perjuangan seumur hidup….dan jika ternyata semua ujian dan tantangan itu terlalu kuat dan tidak mampu lagi antum atasi, maka bersiaplah sejak awal untuk menerima kenyataan bahwa antum gagal sebagai aktivis dakwah”

Jiwa manusia tak ajuh beda dengan anggota tubuh yang lain. Tangan akan lelah jika terus mengangkat, kaki akan pegal saat terus berlari, mata akan berair jika tak berhenti menatap. Dan jiwa akan lelah saat semangat kian surut.

Ada sesuatu yang aneh dirasakan Ka’ab bin Malik. Entah kenapa, sahabat yang begitu dekat dengan Rasul ini merasa enggan untuk segera berangkat bersama yang lain menuju Tabuk. Padahal, hampir tak seorang pun luput dari perang besar ini. Semuanya siap ikut, walau hanya memberikan sumbangan yang mereka punya. Ada apa dengan Ka’ab?
Selama ini hampir tak satu pun peluang jihad disia-siakannya. Tapi di Tabuk ini, ia merasa kalau lading gandumnya yang sedikit lagi panen benar-benar menyibukkannya. Ah, nanti saja, akan aku kejar rombongan Rasulullah. Nanti, dan nanti. Akhirnya Ka’ab benar-benar tertinggal hingga peperangan itu berakhir.
Mungkin, bukan hanya Ka’ab yang sempat merasakan keanehan itu. Kita pun secara sadar atau tidak, pernah merasa ada sesuatu yang mengganjal. Semangat untuk aktif tiba-tiba mengendur, dan keasyikan pun muncul saat diri Cuma berperan sebagai penonton.

Amanah terembankan
Pada pundak yang semakin lelah.
Bukan sebuah keluhan,
Ketidakterimaan,….keputusasaan.
Terlebih surut langkah ke belakang.
Ini adalah
Awal pertempuran
Awal pembuktian
Siapa di antara kita yang beriman.
Wahai diri, sambutlah seruannya
Orang-orang besar lair karena beban perjuangan
Bukan menghindar dari peperangan.

Sekali lagi, kualitas keimanan kita sangat berpengaruh terhadap kekuatan dalan mengemban amanah dakwah ini. Ia akan mampu meneguhkan jiwa dalam menghadapi segala penderitaan, lulus menghadari fitnah, dan teguh di atas al-haq, di mana pun kita berada. Di antara kita ada yang diamanahi di lahan-lahan dakwah yang cukup subur dan hijau, pun tak sedikit yang mendapatkan lahan garap yang terasa sungguh gersang. Namun…di mana pun itu,hendaklah tiap diri menyempurnakan apa yang diamanahkan kepadanya dan bersabar atas kesulitan yang menerpa perjalanannya.

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…….” (QS 22:78)

Ka’ab bin Malik memang pernah mengalami surut semangat dalam dakwah dan jihad. Tapi, sahabat yang mulia ini memohon ampun pada Allah karena kekhilafannya, walaupun ampunan itu mesti ia tebus dengan dikucilkan kaum muslimin selama empat puluh hari.

Sudah bukan saatnya, ketika perbedaan karakter menjadi satu hal yang menghalangi amal dakwah kita.
Sudah bukan jamannya, saat semangat dakwah kita bergantung mood dalam diri kita.
Sudah bukan waktunya, jika kita hanya memilih menjadi penonton atas perjuangan dan pengorbanan saudara-saudara kita menegakkan risalah ini.

Berlomba-lombalah!
karena dunia ini adalah arena pertarungan
Bersegeralah!!
karena sejarah tidak pernah menunggu kita
Bekerjalah!!
karena hanya mereka yang berusaha keras yang akan mendapatkan
Berangkatlah!!!
karena diam di tempat tidak akan mengubah keadaan.

Dan, cukuplan keikhlasan menjadi saksi atas setiap aktivitas amal kita, setiap kerja-kerja dakwah kita.

“…….barangsiapa yang lemah dalam memikul beban ini, ia terhalang dari pahala besar mujahid dan tertinggal bersama orang-orang yang duduk. Lalu Allah Ta’ala akan mengganti mereka dengan generasi lain yang lebih baik dan lebih sanggup memikul beban dakwah ini” (Hasan Al Banna)

Sudah seharusnya kita mengambil peran dalam perjalanan panjangini,,meski jalannya mendaki dan tak berujung. Namun apa yang dijanjikan-Nya sebagai balasan bagi orang-orang yang memilih jalan ini, akan menghapuskan segala lara dan lelahnya jiwa. Sungguh, pengorbanan kita tidak sebanding dengan nikmat surge yang telah Allah janjikan.

Dakwah tidak bersama orang yang terburu-buru memetik buah sebelum masak, tetapi ia tidak pula bersama orang-orang yang hanya menunggu tapi tidak menanamnya.
Dakwah tidak bersama orang yang terburu-buru memetik kuncup sebelum mekar, tetapi ia tidak pula bersama orang-orang yang menunggu kuncup tapi tidak merawatnya.
Dakwah tidak bersama orang yang berlebihan, tetapi ia tidak pula bersama orang yang enggan dan tidak berbuat sama sekali.
Dakwah tidak bersama orang yang bertindak tanpa perhitungan, tetapi ia tidak pula bersama orang-orang yang terlalu takut untuk berbuat.
Dakwah tidak bersama orang yang mempersulit diri, tetapi ia tidak pula bersama orang yang menganggap enteng dan meremehkan.

-recompose dari sebuah tausiyah-

Categories: dapat dari luar, Hamasah! | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.