Jejak Pelangi

Membuat Passport untuk Anak (Bayi) di Kantor Imigrasi Jogja

Very Very Last Post. Niatnya menyusul tulisan ini, namun tertunda lama karena alasan kesibukan 😅

Akhir tahun 2014 yang lalu saya membuatkan pasport untuk anak saya Akhtar. Saat itu Akhtar belum genap 1 tahun. Karena sejak lahir kami stay di Magelang dan kebetulan ber-KK dan KTP Jogja, sy membuatnya di Kantor Imigrasi Jogja.

FYI, kantor imigrasi kelas 1 Jogja beralamat di Jalan Solo KM 10, tepatnya di sebelah barat bandara Adi Sucipto. Jam layanan kantor tersebut adalah
~SENIN – KAMIS : 07.30 – 16.00 WIB (Istirahat : 12.00 – 13.00 WIB)
~JUM’AT : 07.30 – 16.30 WIB (Istirahat : 11.30 – 13.00 WIB).
Hanya saja perlu datang sangat sangat pagi karena antrian dibatasi (kalau tidak salah ingat, 100 aplikasi manual dan 30 aplikasi online), dan jika nomor antrian habis akan diminta datang di hari lain. Dari sini saja saya salah start. Saat itu sy berangkat jam 6.30 dari Magelang, baru tiba sekitar jam 7.30. Ingat betul saat itu hari ibu, tanggal 22 Desember. Saat sy tiba, gerbang akan ditutup karena halaman mau dipakai upacara. Sy naik lewat pintu belakang dan menuju loket antrian, mendapatkan nomor 95. Ternyata cukup beruntung karena biasanya jam segitu antrian sudah habis. Kaget…beda dengan ketika di Solo dulu, datang jam 10 pun masih bisa antri 😀

Kekagetan dan juga salah start yang ke2 adalah Baca lebih lanjut

Iklan
Categories: Jejak Pelangi | Tag: | Tinggalkan komentar

2nd Anniversary

Alhamdulillah, bisa coret2 lagi, meski hanya repost.
Ceritanya hari ini adalah milad pernikahan kami yang ke-2. Tak terasa sudah 2 tahun..meski secara fisik kami baru bersama kurang lebih 6 bulan #happyLDR
Mohon doa dari sahabat semua semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan 🙂

Tak terasa sudah 2 tahun kebersamaan kita. Tepat 1 Muharram 1433 H, kau menjadi halal bagiku begitu juga aku menjadi halal bagimu. Suka, duka telah kita lalui bersama. Masalah silih berganti terlewati, tak lain untuk menjadikan kita lebih baik & senantiasa belajar akan indahnya skenario hidup yang Allah SWT tuliskan di lauhul mahfuz atas kita. Semoga keluarga kita selalu sakinah, mawaddah & rahmah, memiliki keturunan yang sholeh & sholehah aamiin..Happy 2nd anniversary ^^

dari suami, 1 Muharram 1435H ❤
Untuk merefresh ilmu dan pemahaman tentang pernikahan, sy sempatkan browsing tulisan yang sekaligus sebagai sarana muhasabah. Tulisan Ust Cahyadi, sumbernya http://wonderful-family.web.id/?p=754

Pernikahan Adalah..
Baca lebih lanjut
Categories: Jejak Pelangi | Tinggalkan komentar

Ramadhan yang Berbeda

Jika kita pernah mendengar sebuah lirik “Persahabatan bagai kepompong yang mengubah ulat menjadi kupu-kupu”, boleh kiranya kita sebagai Muslim menggubah menjadi “Ramadhan adalah bulan kepompong yang akan mengubah kita menjadi kupu-kupu”. Sebuah ungkapan sarat makna, yang memfirasati bulan suci sebagai momen perubahan diri. Sebagiamana ulat bulu yang menakutkan, ia menjalani satu fase dalam hidupnya  menjadi kepompong, kemudian menjadikannya kupu-kupu yang indah, yang disukai karena anekaragam hiasan alami yang dimilikinya.

Demikian pula dengan manusia, yang tidak pernah luput dari dosa dan alpha. Allah memberikan kesempatan untuk bertemu dengan bulan mulia, bulan bergelimang pahala, bulan dengan beribu keberkahan. Jika kita masuk ke dalam kepompong Ramadhan, kemudian segala aktivitas kita sesuai dengan ketentuan metamorfosis dari Allah, niscaya akan didapatkan hasil yang mengagumkan yakni manusia yang berderajat taqwa, dengan keindahan melebihi yang dimiliki kupu-kupu.

Barangkali akan terasa mudah ketika segala aktifitas ibadah di bulan mulia ini dilakukan di lingkungan yang kondusif, di tengah masyarakat yang kental dengan nuansa keislaman. Namun akan berbeda cerita apabila kita menjalani Ramadhan di lingkungan mayoritas non Muslim yang bahkan tidak mengenal  apa itu Islam. Tentu akan lebih sulit, namun di situlah tantangan dan seninya. Sebagaimana pengalaman saya melaluinya di negeri Gingseng, Korea Selatan.

Baca lebih lanjut

Categories: Cerita dari Korea, Jejak Pelangi | Tag: | Tinggalkan komentar

Belajar Masak

Alhamdulillah, satu hikmah yang sy petik selama kurang lebih dua bulan mengunjungi suami di Korea adalah jadi lebih rajin memasak 🙂 Lebih tepatnya karena tuntutan kondisi, di mana kami harus maka tapi tidak bisa jajan sembarangan karena faktor kehalalan makanan yang belum bisa dijamin. Setidaknya dengan mengolah makanan sendiri, kita bisa memilih bahan dan bumbu yang halal serta bisa menyesuaikan dengan selera sebagai warga Endonesya.

Pada awalnya sy cukup kesulitan karena sayuran yang tersedia di supermarket/ pasar lokal tidak banyak ragamnya (baca: belum lazim bagi sy untuk mengolahnya :D), seperti sawi putih, lobak, daun mint, tauge, terong ungu, kentang daun bawang, wortel, tahu sutera. Jejamuran juga cukup lengkap, tomat dan kol ada namun cukup mahal, dan tidak mudah ditemui sayuran hijau seperti bayam atau seledri. Sedang kangkung, kacang panjang, buncis, bawang merah, tempe hanya bisa didapatkan di Asian food atau world food, dengan harga yang fantastis (1 ikat kacang/ buncis/ kangkung rata-rata 27.000 IDR). Ikan laut cukup banyak tersedia *bisa dapet murah kalau pas diskonan* dan ayam, daging, atau lele biasa sy beli di Halal Food Islamic Center atau Musholla.

Buah-buahan pun tidak bisa dibilang murah. Baca lebih lanjut

Categories: Cerita dari Korea, Jejak Pelangi | Tinggalkan komentar

Hanguko Joa

Alhamdulillah, di bulan Ramadhan ini aktifitas sy bertambah. Yap, mendapat kesempatan les bahasa Korea gratis di kampus suami, 4 kali seminggu @ 3 jam. Dengan semangat 45 sy datang les, daaan..taraa..sy tersedak. Tiba-tiba ingat nasihat suami agar terlebih dulu belajar huruf Hangul secara otodidak agar nanti tidak ketinggalan, namun karena sy males-malesan tidak tuntas belajarnya, sy berpikiran nantinya di les akan diajarin dari awal. Begitu masuk, di hari pertama, songsaenim (guru) lebih banyak menggunakan bahasa Korea daripada English, dan teman les pun rata-rata sudah bisa membaca, sudah pernah les sebelumnya, bahka ada yang sudah di tataran advance. Ingin menangis rasanya, menjadi orang paling ketinggalan sedunia..di saat yang lain sudah cas cis cus saya masih buta huruf 😥
Well, tidak ada yang bisa menyurutkan langkah. Kalau tidak dipaksa belajar pasti tidak akan bisa. Belajar sendiri pun pasti angin-anginan. Saatnya mengejar ketertinggalan, setidaknya bisa membaca walau masih terbata, dan untuk pelajaran di kelas cukup mendengar dan mengikuti, membiasakan lidah untuk mengucap dan mengenalkan telinga untuk mendengar. Sy percaya pengulangan adalah cara yang baik untuk memahami. Bismillah..

Categories: Cerita dari Korea, Jejak Pelangi | Tinggalkan komentar

Pe-eR

Gambar

picture by Imuska

Ramadhan jauh dari keluarga, di musim panas pula.
So?
Harus selesaikan PR demi PR.

Daaann..PRnya adalah:
1.mengatur ritme aktifitas karena malam lebih pendek daripada siang
Jadwal shalat tanggal 1 Ramadhan seperti ini..:
.Fajr 03:33
.Sunrise 05:21
.Dhuhr 12:36
.Asr 16:26
.Maghrib 19:51
.Isya 21:32
Harus diaatur kapan tilawah, kapan tidur, masak, tarawih, nyuci, setrika, dll etc. Oya, mulai minggu depan ada les bahasa 4 hari seminggu di siang hari, don’t forget.

2. Atur menu
Heu..baru ngerasain di mana harus jadi PJ konsumsi. Selama sekian tahun hanya jadi konsumen, tahu beres, tinggal makan..sekarang kalau ga masak ga ada yang dimakan, kalo males belanja ga ada yang dimasak. Dan karena terbatasnya sayur juga daging + ayam halal ga dijual di semua tempat, terlebih karena terbatasnya kemampuan memasak, maka variasi menunya cukup terbatas pula. Membayangkan ada sirup, rujak, tempe goreng..hhmm..cukup dibayangkan dulu..berganti ke kolak dan kurma. Oke.

3. Targetan ibadah
Mau diapakan targetannya? buat pajangan? btw emang udah dibikin?
Ya..banyak waktu luang bisa menjadi nikmat, tapi kalau terlena aka menjadi mudharat. Pandai2 atur strategi, gpp berlomba dengan diri sendiri *berkaca capaian thn lalu*, saling menyemangati sm suami n temen2 muslimah, rajin2 thalabul ilmu secara mandiri, jangan keseringan FBan dan twitteran, apalagi baca berita online. Dan selalu selipkan doa untuk mereka…sepenuh kesungguhan.

4. Pinter2 mengkondisikan diri, merefresh niat, ikhlas.. biar semuanya enak dan ringan dijalani.
Fighting!!

Categories: Cerita dari Korea, Jejak Pelangi | Tag: | Tinggalkan komentar

Ramadhan Loading

Selalu saja ada aroma berbeda ketika ia menyapa. Ramadhan..sungguh sy merindukannya. Namun entahlah..barangkali rindu itu belum bertalu karena hitamnya hati oleh dosa, sehingga tiba di pintunya pun masih terasa biasa.
Rabbighfirlii..

Seharusnya kesyukuran itu kian membuncah atas kesempatanNya untuk menikmati ramadhan bersama suami. Teringat tahun lalu, di mana aktifitas kampus telah menipis, dn sy tinggal sendiri di kontrakan. Sungguh sangat menyiksa, buka dan sahur sendirian, demikian tidak produktif, barangkali karena kondusifitas yang belum terbangun. Jauh berbeda dengan yang sy rasakan ketika masih aktif dengan beragam aktvitas di kampus maupun berburu ifthar dengan teman kost.

20120406_134723

Dan kini, ramadhan di negeri minoritas, justru tantangan yang menghadang makin beragam. Setidaknya di awal, ketika harus pandai-pandai mengkondisikan diri akan datangnya tamu istimewa. Tidak ada takbir beriring pukulan bedug, atau adzan bersahutan, atau puji-pujian yang menggetarkan hati. Berikutnya, harus siap dengan minimnya shalat jamaah (kecuali dg suami) karena jarangnya masjid dan jauhnya mushalla yang menjadikan tidak bisa tiap saat ke sana. Lalu tentang musim panas dengan cuaca yang berubah, namun tidak mengubah takaran siang selama 16,5 jam. Namun bagi sy yang tidak banyak beraktifitas di luar, barangkali itu belum seberapa, sebagaimana yang harus dihadapi para pekerja dan mahasiswa yang seringkali untuk shalat saja harus mencuri2 waktu, menghadapi pertanyaan tentang jilbab, mendapati wajah iba karena menganggap puasa tidak manusiawi..membiarkan orang kelaparan dalam waktu yang lama *Korean sangat toleran dalam hal agamakepercayaan, namun faktor kemanusiaan sering membuat mereka kasihan pd kami :)*.

Apakah kondisi ini harus dihadapi dengan keluh?
Apakah karenanya akan menyurutkan semangat untuk melipatgandakan amal baik?
Apakah itu akan sy jadikan alasan untuk tidak optimal beribadah?

Sesungguhnya orang beriman tak kan bosan meraih manfaat berfikir, tidak putus asa dalam menghadapi keadaan, dan tidak akan pernah berhenti berfikir dan berusaha senantiasalah berusaha tuk menjadi yang terbaik. Tapi janganlah merasa menjadi yang terbaik karena Allah Maha Mengetahui segalanya.

Beruntunglah orang-orang yang memperhatikan semangat dalam tiap pergantian waktu, menjaga niat tetap dalam kebaikan, menemukan Allah dalam gerak langkahnya dan menjadikan Allah sebagai tujuan akhir hidupnya.

Categories: Cerita dari Korea, Jejak Pelangi | Tag: | Tinggalkan komentar

iseeng lagiii

Habis stalker grup UNS motherhood, dan selalu ketawa kalau baca postingan bu admin @SoniaAtika yang ini :

Sepertinya lagi trend panggilan “Bunda” di kalangan teman2 yang menjadi ibu baru.
Kalo ditanya kenapa saya tidak ikut2an? karena saya khawatir, kalo nantinya anak2 memanggil saya “Buuund…” yang menoleh malah ayahnya yang marah-marah nda terima..
hehe.. just intermezo..
selamat malam, ibu2 hebat 🙂

*note: suami mb Sonia namanya Pak Harbun 😀

Dan teringat pula obrolan dengan suami terkait panggilan semacam itu. Nyicil mbahas, hehe.
Dimulai dengan me-list kemungkinan pasangan panggilan kepada bapak-ibu yang kini memang makin beragam. Kalau dulu, di desa kami, trending-nya ya Bapak-Ibu (Jawa) dan bak-umak (Palembang). Di Jawa dikenal pula Bapak-Emak dan Bapak-Simbok (disingkat jadi pak’e mbok’e), setelah sebelumnya Bapa-Biyung *entah di era kapan*
Lalu kami merefer bagaimana keponakan kami memanggil orang tuanya. Di 2 dari 3 keluarga kakak suami dipanggil Ayah-Mama, yang satu Ayah-Ibu. Dan di keluarga satu-satunya kakak sy pun dipanggil Ayah-Mama.
Dan di Korea sy menemukan fenomena baru, di mana yang jadi trending di sini adalah panggilan Abi-Bunda.
Well, ternyata banyak ya opsinya. Mari dirangkum.

.Bapak-Ibu
.Ayah-Ibu
.Ayah-Bunda
.Papa-Mama
.Ayah-Mama
.Papi-Mami
.Abi-Ummi
.Abi-Bunda
.Baba-Bubu
.Papa-Umbu
.Papi-Mama
.Papa-Mami
.Papa-Bunda
.Ayah-Ummi
.Abah-Ummi

Ada yang lain kah?
Kira-kira mau pilih yang mana? 😀

Categories: Jejak Pelangi | Tinggalkan komentar

Sebulan di Korea

Tidak terasa sudah sebulan sy berada di negeri Kimchi. Jika ditanya betah atau tidak, bagi sy di mana pun sama saja, asal bersama suami *tsaah.

Awal di sini, 2 pertanyaan yang sering diajukkan teman-teman adalah “jam berapa di sana?” dan “lagi musim apa?”. Akhir-akhir ini ditambah satu, “bagaimana keadaan di sana, terpengaruh perang sama Korut ga?”
Well, sekali lagi, Korea tak seindah di film drama. Barangkali yang terbayang adalah hal yang serba asyik, jalan-jalan di istana, berpose dalam Hanbook, mencicip kimchi dan kimbap, bertemu Lee Minho, liat aksi K-Pop, dsb. Hehe, sama sekali tidak. Lagipula sy kemari adalah untuk menuntaskan rindu yang terlajur menggebu menemani suami, menjadi asisten serta koki 😀 Barangkali, luar negeri hanyalah untuk turis. Selebihnya adalah tentang cita, perjuangan, dan penghidupan.
Jika boleh memilih, semua orang pasti mengatakan tempat ternyaman adalah rumah sendiri. Suasana terindah adalah ketika berkumpul bersama sanak keluarga di tanah air tercinta. tidak perlu susah payah beradaptasi dengan cuaca, lingkungan, makanan, budaya, terlebih dulu bekerja keras untuk sekedar bisa makan ^^, harus menempuh berkilo jarak untuk sekedar mengecap ukhuwah, mesti bersabar ketika mendapat perlakuan kurang mengenakka serta miskomunikasi karena keterbatasan bahasa masing-masing . Sy pun berpendapat demikian. Namun, semua yang terjadi tak lepas dari ketentuan-Nya, yang harus kita jalani sepenuh keikhlasan. Alhamdulillah, diberikan kesempatan untuk bertafakur di belahan bumi-Nya yang lain, diberi waktu untuk semakin banyak belajar, dan tentu banyak hal yang membuat kita makin bersyukur. Dann..di tengah banyaknya tantangan, sy tidak menolah jika nantinya diberikan kesempatan untuk bisa menginjak tanah suci, menjelajah benua kanguru, hingga benua biru (aamiin…)

Eniwey, kali ini sy kembali ingin berbagi cerita..
Tentang Keamanan
Sebagai negara maju, Korea Selatan telah menerapkan teknologi hampir di semua ssi kehidupan. Termasuk dalam hal keamanan dan pengamaan, CCTV sangat mudah dijumpai, hampir di semua tempat umum. Di samping itu, kunci pintu di beberapa tempat tidaklagi menggunakan kunci manual, melainkan telah menggunakan sandi maupun scan bagian tubuh. Sebagai contoh di dormitory tempat sy tinggal, di pintu utama untuk memasuki bangunan digunaka kode sandi yang berupa angka yang dimiliki oleh semua penghuni terdaftar, yang dilengkapi dengan scan punggung tangan masing-masing. Sedang untuk kunci pintu kamar digunaka kode angka yang hanya diketahui oleh pemilik kamar.

Gambar

pintu masuk gedung Baca lebih lanjut

Categories: Cerita dari Korea, Jejak Pelangi | Tag: , | Tinggalkan komentar

Mengurus NPWP di Solo dan Magelang

Sebelum lupa, kemarin sy juga sempat membuat NPWP untuk dilampirkan di berkas permohonan visa. Kata suami, lebih baik sekalian diurus dan dilampirkan, toh tidak sulit mengurusnya.

Benar saja, caranya simple, cukup datang ke KPP terdekat dengan membawa fotocopy KTP dan mengisi form pendaftaran, selanjutnya permohonan akan diproses. Atau cara lain, yaitu dengan mendaftar online. Sy memilih cara ke-2, yaitu mendaftar secara online berbekal informasi dari website dirjen pajak. Di sana ada beragam pilihan menu salah satunya e-registration. Sy membuat akun kemudian melengkapi form aplikasi, lalu mencetaknya.

Baca lebih lanjut

Categories: Jejak Pelangi | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.